Selasa, 25 Desember 2018

Jingga? Bukan


Dentuman itu mengejutkanku
Padahal sempat kemarin bercengkrama
Rupanya siapku hanya di ucap
Nyatanya dentuman itu lebih sigap

Jingga dan hitam
Ekspektasi dan asumsi
Aku kalut dengan ucapku
Sudah hitam, kuterima payahku

Selasa, 23 Oktober 2018

Aku di Stasiun

Bisingnya pejalan kaki
Bisingnya malam hari di stasiun
Menjadi teman bicaraku

Irama kereta dan aroma manusia
Datang dan pergi
Menganyam kepastian

Anginnya malam dan terangnya bohlam di pinggiran jalan
Bersama jajanan-jajanan stasiun
Menghias keramaian

Iringan kotak musik dan ondel-ondel
Pengamen dan gitarnya
Menghiburku kejauhan

Tetap tak mengubah
Tungguku tak pernah pasti
Hiburku berapi menjadi-jadi

Sabtu, 07 Juli 2018

Cerpen: Lelaki Bermata Coklat



Seorang lelaki duduk berdampingan dipisahkan hijab (penghalang) dengan seorang wanita yang didampingi walinya, senyumnya terlihat ketika ia memandang wali pengantin wanitanya. Lelaki bermata coklat dengan rambut rapinya dan setelan tuksedo tersenyum bahagia disamping pengantin wanitanya, memandangnya sesekali tampak tidak percaya. Mempelai wanitanya memakai pakaian yang tampak sederhana dan elegan, kerudungnya panjang menutupi dada dan punggung, tidak terlihat lekuk tubuhnya tapi tetap terasa kharismanya.
Aku memilih duduk di kerumunan orang barisan kedua, penasaran dengan wajah pengantin wanitanya yang tertunduk itu. Setelah ijab qabul, kedua pengantin itu bergerak mundur dan bersatu di kerumunan pada barisan terdepan. Rupanya pernikahan ini dilangsungkan dengan syariat islam dimana tamu pria dan tamu wanita ditempatkan terpisah.
Kupandangi pengantin wanita dari belakang, ingin menyapanya dan melihat wajahnya namun terlalu jauh jaraknya. Aku berada di ujung sisi kanan dekat pintu keluar, sedangkan ia berada di ujung sisi kiri. Aku menunggunya menoleh.
Tiba-tiba dadaku sesak, terasa seperti udara menyeruak masuk memenuhi dadaku. Rasa sakit mendadak muncul dalam dadaku. Mataku membantah dan terbelalak.
Kupaksa diriku bangun dari tempat tidur yang nyaman, fajar mulai muncul di sudut jendela kamarku. Setelah menunaikan shalat subuh, dengan malas kuseret diriku keluar kamar. Aku bergegas memakai sepatu, melakukan pemanasan dan lari pagi seperti biasanya. Tentu harus jogging pagi ini, berat badanku bertambah karena kurangnya mobilitas tubuhku. Ditambah lagi sekarang aku lebih sering khilaf ketika melihat makanan, sering lapar padahal sudah kenyang. Aku tidak boleh serakah lagi, badanku mulai berat dan bajuku mulai sesak.
Kunikmati setiap hentakan kakiku diatas tanah. Aroma daun yang berembun melawan malasku, segar. Di bawah pohon yang rindang aku bersandar dan melepas lelahku. Setelah duduk sepuluh menit, kuputuskan berlari sepanjang perjalanan pulang ke rumah.
“Mbak! Mbak, sebentar mbak”, panggil seorang lelaki di belakangku. Aku tidak menoleh, mungkin bukan memanggilku pikirku. Tapi lelaki itu mempercepat larinya dan menyusulku.
“Maaf mbak, ini botol minum milik mbak bukan?”, tanyanya sambil menatapku sebentar kemudian beralih menatap botol minum yang berwarna biru.
“Oh, iya mas. Terimakasih”, jawabku malu. Entah kenapa perasaan dan pikiranku terasa berputar, seperti deja vu rasanya. Aku pernah mengalaminya. Aku mengenalnya.
Lelaki itu kemudian pergi. Tak kulepas pandanganku, aku tersadar. Astagfirullah, tidak seharusnya aku memandangnya lebih lama. Aku terkesan dengan kebaikannya, dengan sikapnya. Lelaki yang menghargai wanita.

Mentari menatap cerah diluar jendela. Ponselku bergetar membuyarkan lamunanku. “Halo, assalamu’alaikum”, sapaku.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah Na.. lagi ngapain?”, tanya Ismi.
“Lagi rapiin kerjaan, kan udah jam makan siang. Kenapa Mi?”, aku merapikan mejaku sebelum berangkat makan siang.
“Na, aku mau khitbah dan lamaran minggu depan”, jawabnya di seberang telepon.
“Wah... alhamdulillah. Kapan nadhornya? Kok gak bilang.. Aku ketinggalan info nih”, tanyaku agak kecewa karena bahkan kapan nadhornya (nadhor, melihat calon pasangan sebelum diadakannya khitbah/peminangan) pun aku tidak tahu.
“Iya, maaf Na.. aku kelupaan. Kemarin mau bilang kamu malah sibuk terus, jadinya ketunda terus dan sekarang baru sempat bilang”, jawabnya.
“Oh... iya maaf ya kemarin aku lagi banyak kerjaan.. Oh ya, calonmu dari mana? Orangnya gimana?”, tanyaku dibanjiri perasaan penasaran.
“Dia asli Bandung Na... kerja di Jakarta. Pas awal lihat CV-nya aku langsung tertarik, dan pas nadhor aku semakin yakin sama dia. Orangnya terlihat sopan dan menghargai orang lain. Yang itu loh Na, yang aku bilang ke kamu visinya hampir sama”
“Oh yang tipeku itu ya.. haha”, ujarku sambil bercanda.
“Iya Na, yang pernah kuceritakan
Wah... semoga lancar ya khitbahnya. Jadi gimana cerita pas nadhor?”, aku bertanya lagi. Ismi menjelaskan penuh semangat.
Dari hasil perbincangan, Ismi akan melaksanakan khitbah dan lamaran pekan depan dan ia mengajakku untuk hadir. Dalam acara khitbahnya ia hanya mengundang sahabat dekat dan keluarga saja. Selain itu akan diadakan pula pengajian bulanan keluarga di rumahnya.

Satu pekan sudah berlalu. Aku menatap diriku di depan cermin dengan baju navy senada dengan kerudungnya. Seperti biasa, aku mengendarai sepeda motor, motor matic yang kupakai sejak aku masih SMA. Di tengah perjalanan, ban motorku pecah. Aku hanya menghela nafas, mau tak mau kudorong motorku sekitar 50 meter ke bengkel terdekat. Ya, lumayan lelah karena semalam baru sampai di kota kecil ini, kutempuh 8 jam dari Jakarta ke Tasikmalaya. Untungnya pekan ini sudah akhir tahun, aku memilih liburku di libur natal dan lembur di  akhir Desember hingga awal tahun baru sehingga bisa pulang sekalian menghadiri acara pengajian dan khitbah di rumah Ismi.
“Maaf pak, tolong dicek ban motor saya sepertinya bocor”, pintaku pada lelaki paruh baya yang sedang membereskan kunci inggris dan peralatannya.
“Iya teh”, jawabnya. Ia mengecek ban motorku dan memastikan kerusakannya. “Ini bannya harus ditambal teh”, ujarnya lagi.
“Oh iya pak, tambal aja”
Aku mengirimkan pesan singkat pada Ismi bahwa aku akan datang terlambat. Separuh diriku merasa bersalah karena aku sudah bangun kesiangan dan sekarang harus menunggu ban motor diperbaiki. Entah sempat atau tidak untuk menyaksikan khitbah dan pengajiannya.
Setelah sekitar 40 menit, akhirnya ban selesai diperbaiki. Kutancap gas secepat mungkin agar lebih cepat sampai tujuan.
Suasana di rumah Ismi tidak terlalu ramai, hanya beberapa kerabat dekat dan aku beserta Ranita sahabat dekatnya yang datang. Begitu aku datang, acara lamaran dan pengajian sudah selesai. Aku langsung dijamu untuk makan siang. Kutemui Ismi dengan senyuman dan rasa penasaran. Penampilan Ismi masih sederhana, hanya memakai bedak tipis dan lipbalm agar tak terlihat pucat dibalut kerudung baby blue lengkap dengan dress warna baby blue yang elegan dan simple.
“Mi... maaf aku telat ya. Kamu cantik banget Mi...”, ucapku pada Ismi sambil memeluknya, ya aku merindukan sahabatku.
“Gak apa-apa Na, kamu pasti capek”, sahut Ismi menenangkan.
“Enggak kok, buat kamu mah gak ada kata capek”, aku tersenyum dan menggodanya. “Oh ya, mana calonmu?”, aku melanjutkan bertanya.
“Ya Ampun, aku lupa. Mana ya? Oh itu dia, lagi ngobrol sama saudaraku”, Ismi mengarahkan mataku pada seseorang dengan baju koko putih tulang yang sedang berbicara dengan sepupunya.
Itu dia. Lelaki bermata coklat, yang memberikan botol minumku. Entah kenapa jantungku terpacu dan berdebar lebih kencang. Aku mengutuk diriku sendiri, tak sengaja tertegun.
“Yang pakai koko putih tulang?”, aku bertanya mengkonfirmasi.
“Iya”, jawabnya.
“Masyaa Allah, sepertinya dia shaleh dan baik Mi. Oh ya, kapan pernikahan dilaksanakan?”, tanyaku lagi berusaha menutupi keterkejutanku.
Kalau tidak ada halangan Insyaa Allah bulan depan Na, kamu datang ya”
“Insyaa Allah ya Mi, aku gak janji”
“Pokoknya harus datang. Kita kan udah janji. Siapa yang nikah harus datang, dan kalau ada kerja minta cuti, harus diluangkan. Ya kan?”, Ismi mengingatkan.
Aku menelan ludah mengiyakan. Aku bahagia dia akan menikah, tapi kenapa dada ini sakit sekali. Sungguh konyol, aku hanya terkagum karena lelaki itu mengembalikan botol minumku dengan sopan dan sekarang aku merasa sakit karena ia akan menikah dengan sahabatku.

Senja Jakarta yang gersang menyambutku. Gedung-gedung itu menampakan kilatan jingganya, menghiburku yang termenung. Aku menarik nafasku lalu menghembuskannya perlahan. Aku ingin terpejam dan lupa. Angin senja membawa resahku pergi.
Lelaki bermata coklat itu tersenyum dengan tuksedo putih memandangi wanita impian yang sudah sah menjadi wanitanya. Dua insan bahagia, hari ini adalah harinya, hari ini dunia milik mereka, hari ini seluruh waktu milik mereka. Seolah tidak peduli dengan sekitar, aku hanya menatap lelaki bermata coklat itu. Sakitku hilang, sejenak.
“Mbak, kampung rambutan mbak”, supir bus membangunkanku.
“Ah, iya bang”, aku tersadar dari mimpiku. Ini mimpi keduaku, lelaki bermata coklat dengan setelan tuxedo itu. Mungkin rasa sakit mengantarku pada mimpi ini.
Kuletakkan tasku dipinggir kasur, gerah menemani lelahku. Seusai mandi, aku membasuh wajahku dan berwudhu. Lelah dan resahku mengalir bersama air yang menghujaniku. Mengalir dan hilang bersamanya.
Rutinitas mengembalikan diriku kepada Jakarta yang sesungguhnya. Jakarta yang selalu sibuk. Aku yang seperti gedung-gedung itu. Ramai tapi tak bergeming. Semua berjalan seperti biasanya, gedung yang tetap begitu, lingkungan yang tetap begitu, dan aku yang tetap begini. Tak berubah, begitupun perasaanku. Aku semakin malu pada Sang Pencipta, sedetikpun aku tak lupa padanya. Kudekatkan diri dengan lebih sering shalat sunat termasuk di sepertiga malamku.
Tapi tak berubah. Aku masih dengan mimpiku. Lelaki dengan setelan tuksedo itu masih mengunjungiku. Rutinitas masih tidak mengubah mimpiku. Ia datang hampir seminggu sekali ke dalam mimpiku. Dengan mimpi yang masih sama.
Mimpiku semakin bervariasi. Seminggu yang lalu, hari keenam di Jakarta aku tiba-tiba pingsan di kantor. Rekan kerjaku bilang aku hilang kesadaran selama 2 jam. Tapi anehnya aku merasa baik-baik saja. Aku mencium wangi mawar, saat kubuka mataku, hamparan pohon mawar berbaris di sekeliling lapangan. Di tengah taman tampak Ismi tertawa besama seorang anak kecil. Lalu tiba-tiba aku mengantuk dan membuka mata lagi, Ismi menyiapkan undangan pernikahannya yang sederhana dengan tempat di Taman Mawar. Saat aku terbangun, wajah-wajah lega tergambar di sekelilingku. Rekan-rekanku hampir melarikanku ke Rumah Sakit jika saja semenit lagi aku tak sadar. Aku sudah di dalam mobil.
“Loh kenapa kalian buru-buru?”, tanyaku yang tidak tahu sejak kapan aku sudah tertidur di jok mobil rekan kerjaku.
“Hana..... elu gak apa-apa? Pusing gak? Lemas? Sakit?”, setengah teriak Anto bertanya dalam keadaan yang sudah siap di posisi mengemudi, ia terlihat kaget melihatku terbangun.
“Hah? Gak apa-apa kenapa? Siapa yang sakit? Aku sehat sepenuhnya.”, aku heran, mataku masih berat dan aku sedikit menguap.
“Kurang ajar, bikin kaget aja lu!”, Mbak Diana mencubit lenganku. “Serius kagak kenapa-kenapa? Lagi sakit lu? Tadi lu jatuh di lobi”, tambah mbak Diana dengan logat Betawinya.
“Sakit mbak, sakit dicubit. Selebihnya aku baik-baik aja”, jawabku pada mbak Diana, akhirnya ia hanya mengelus dada dan bersyukur.
Mereka menceritakan peristiwa jatuhnya aku di lobi dan mereka berusaha membangunkanku namun aku tak kunjung sadar.
Seminggu kemudian, tepatnya hari ini aku mendapat telepon dari Ismi, dia bilang akan melangsungkan pernikahan di Taman Mawar, dan ia baru akan menyiapkan undangannya hari ini. Aneh. Aku bahkan tak pernah menceritakan mimpiku padanya.
Semakin lama semakin sering aku hilang kesadaran secara tiba-tiba dan bangun dikerumuni orang. Entah kenapa dan entah sejak kapan aku tak mengerti. Dan hal yang kuanggap bunga tidur ini seringkali menjadi nyata.
Aku tidak menceritakan bunga tidurku pada siapapun. Mungkin siapapun akan menganggapku ngawur dan mengusulkanku pergi ke psikolog alih-alih mempercayai omonganku.
Mbak Diana meyakinkanku untuk melakukan pemeriksaan kesehatan meski aku merasa baik-baik saja. Ia bersikeras.
Dan hasilnya aku sehat, tidak ada gangguan kesehatan yang ditemukan. Mbak Diana masih tetap ingin meyakinkan dan mencoba mengajakku ke Rumah Sakit lain. Sampai tiga Rumah Sakit, dengan hasil sama.
Mungkin hanya gangguan karena terlalu lelah atau bisa jadi ada hal yang membebani pikiranku, kata dokter. Ia menyarankan agar aku tidak memikirkan hal-hal yang membuatku stress. Aku hanya manggut-manggut mengiyakan.
Baiklah. Aku terlalu lelah, aku yakin. Aku tak boleh memikirkan lelaki itu.
Seperti biasanya, Jum'at ini aku mengikuti kajian. Ummu Annisa menatap wajahku. Tak seperti biasanya.
"Kamu kenapa Hana?", ia bertanya.
"Kenapa apanya Ummu? Saya tidak apa-apa", aku tambah heran dengan pertanyaannya.
Sekejap buram menerpa. Gelap menyelinap.
"Memikirkannya? Coba ingat apa pintamu pada Allah, mungkin itu akan menjawab pertanyaanmu", ujarnya lagi, aku terkejut.
"Ya Allah, hamba memohon petunjuk-Mu..", aku menatap diriku yang bersimpuh diatas sajadah. Memanjatkan do'a-do'a pada pencipta. Memuja-Nya manja, merayu-Nya mesra. Dia meminta selalu dekat dengan-Nya, dan... dan dia meminta sesosok lelaki yang mencintai-Nya. Meminta lelaki yang tak pernah melupakan-Nya. Itu aku. Aku setahun yang lalu, saat aku sadar betapa salahnya aku bersandar pada manusia. Setelah sadar bahwa aku terlalu cinta dunia. Cinta atas nama Allah menjadikan dunia dalam genggaman manusia. Sejatinya cinta hanya kepada Allah, menyerahkan diri seutuhnya kepada-Nya menjadikanku makhluk paling bahagia. Kemudian aku meminta makhluk-Nya, yang mencintai-Nya, yang tak pernah melupakan-Nya. Aku menginginkan lelaki yang menyimpan dunia dalam genggamannya dan menyimpan Allah dalam hatinya.
Aku menarik nafas panjang dan tersedak. Aroma minyak kayu putih yang tajam menusuk hidungku. Tangan Ummu melingkar di belakang leherku, aku terbaring lagi. Ia memandangku heran.
"Kamu baik-baik saja?", Ummu bertanya.
"Ah iya Ummu, saya tidak apa-apa", jawabku singkat seraya duduk dan membetulkan posisiku.
Ummu terlihat khawatir. Ia menawariku tumpangan pulang namun aku menolaknya. Aku meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja dan aku bisa pulang sendiri mengingat jauhnya rumah Ummu, bahkan rumah kami tidak searah.
Setelah kajian ini aku harus segera pulang kampung, pernikahan Ismi akan berlangsung besok.

Semua orang berkerumun untuk melihat sepasang insan merayakan harinya. Hari untuk Ismi dan lelakinya. Aku tertegun. Setengah tak percaya dan setengah bahagia. Entah bahagia ini benar atau tidak. Aku menatap Ismi yang sedang melaksanakan akad nikah. Mempelai pria itu bukan lelaki bermata coklat dengan tuksedo putih yang ada dalam tidurku. Dia bukan sosok yang kukenal.
Sampai akhirnya sesi foto kulihat lelaki bermata coklat berdiri disamping mempelai pria, dia tersenyum. Sejuk.
Selesai acara pernikahan aku berbincang dengan Ismi. Ia tertawa ketika kuceritakan bahwa aku salah mengira mempelai pria. Ia justru memberiku CV.
"Aku sudah menyimpan ini sejak kamu terakhir kesini, sejak khitbah. Adiknya mas tertarik padamu", ujarnya.
Adiknya suami Ismi, lelaki bermata coklat itu. Hormon endorfin memenuhi tubuhku, bahagia menjalar tanpa permisi. Aku memeluk Ismi yang sekarang heran menatapku yang terlalu bahagia.

Sudah enam bulan sejak saat itu, sejak pertukaran CV. Dan sebulan yang lalu aku telah melaksanakan khitbah dan lamaran. Aku tak bermimpi lagi sejak saat itu.
Hari ini mimpi itu terjadi. Aku tertunduk bahagia, aku tidak boleh menangis atau make up-ku akan luntur. Sekarang aku berdiri dengan gaun putih disamping lelaki bermata coklat dengan tuksedo putih yang melengkapi separuh agamaku, menjadi imamku. Perayaaan yang selama ini mengunjungiku. Hariku dan harinya.
Maha Suci Allah dengan segala Kuasa-Nya.

- selesai -



Btw, sebenarnya cerpen ini sempat ikut dilombakan di shiramedia, tapi bukan sebagai pemenang. Semoga sedikit menghibur :)

Pagi, siang, dan senja

Mata yang samar disapa dingin yang menjalar Pagiku menunggu di gagang pintu Kusambut bersama jenuh Belum senjaku datang, keluh menghadan...