Seorang lelaki duduk berdampingan dipisahkan hijab
(penghalang) dengan seorang wanita yang didampingi walinya, senyumnya terlihat ketika ia memandang wali pengantin wanitanya.
Lelaki bermata coklat dengan rambut rapinya dan setelan tuksedo tersenyum
bahagia disamping pengantin wanitanya, memandangnya sesekali tampak tidak
percaya. Mempelai wanitanya memakai pakaian yang tampak sederhana dan elegan,
kerudungnya panjang menutupi dada dan punggung, tidak terlihat lekuk tubuhnya
tapi tetap terasa kharismanya.
Aku memilih duduk di kerumunan orang barisan kedua,
penasaran dengan wajah pengantin wanitanya yang tertunduk itu. Setelah ijab
qabul, kedua pengantin itu bergerak mundur dan bersatu di kerumunan pada
barisan terdepan. Rupanya pernikahan ini dilangsungkan dengan syariat islam
dimana tamu pria dan tamu wanita ditempatkan terpisah.
Kupandangi pengantin wanita
dari belakang, ingin menyapanya dan melihat wajahnya namun terlalu jauh
jaraknya. Aku berada di ujung sisi kanan dekat pintu keluar, sedangkan ia
berada di ujung sisi kiri. Aku menunggunya menoleh.
Tiba-tiba dadaku sesak, terasa seperti udara menyeruak
masuk memenuhi dadaku. Rasa sakit mendadak muncul dalam dadaku. Mataku
membantah dan terbelalak.
Kupaksa diriku bangun dari tempat tidur yang nyaman,
fajar mulai muncul di sudut jendela kamarku. Setelah
menunaikan shalat subuh, dengan malas kuseret diriku keluar
kamar. Aku bergegas memakai sepatu, melakukan pemanasan dan lari pagi seperti
biasanya. Tentu harus jogging pagi
ini, berat badanku bertambah karena kurangnya mobilitas tubuhku. Ditambah lagi
sekarang aku lebih sering khilaf ketika melihat makanan, sering lapar padahal
sudah kenyang. Aku tidak boleh serakah lagi, badanku mulai berat dan bajuku
mulai sesak.
Kunikmati
setiap hentakan kakiku diatas tanah. Aroma daun yang berembun melawan malasku,
segar. Di
bawah pohon yang rindang aku bersandar dan melepas lelahku. Setelah duduk
sepuluh menit, kuputuskan berlari sepanjang perjalanan pulang ke rumah.
“Mbak! Mbak, sebentar mbak”, panggil seorang lelaki di
belakangku. Aku tidak menoleh, mungkin bukan memanggilku pikirku. Tapi lelaki
itu mempercepat larinya dan menyusulku.
“Maaf mbak, ini botol minum milik mbak bukan?”, tanyanya
sambil menatapku sebentar kemudian beralih menatap botol minum yang berwarna
biru.
“Oh, iya mas. Terimakasih”, jawabku malu. Entah kenapa
perasaan dan pikiranku terasa
berputar, seperti deja vu rasanya. Aku pernah mengalaminya. Aku mengenalnya.
Lelaki itu kemudian pergi. Tak kulepas pandanganku, aku
tersadar. Astagfirullah, tidak seharusnya aku memandangnya lebih lama. Aku
terkesan dengan kebaikannya, dengan sikapnya. Lelaki yang menghargai wanita.
Mentari menatap cerah diluar jendela. Ponselku bergetar
membuyarkan lamunanku. “Halo, assalamu’alaikum”, sapaku.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah Na.. lagi ngapain?”, tanya
Ismi.
“Lagi rapiin kerjaan, kan udah jam makan siang. Kenapa
Mi?”, aku merapikan mejaku sebelum berangkat makan siang.
“Na, aku mau khitbah dan lamaran minggu depan”, jawabnya
di seberang telepon.
“Wah... alhamdulillah. Kapan nadhornya? Kok gak bilang..
Aku ketinggalan info nih”, tanyaku agak kecewa karena bahkan kapan nadhornya
(nadhor, melihat calon pasangan sebelum diadakannya khitbah/peminangan) pun aku
tidak tahu.
“Iya, maaf Na.. aku kelupaan. Kemarin mau bilang kamu
malah sibuk terus, jadinya ketunda terus dan sekarang baru sempat bilang”,
jawabnya.
“Oh... iya maaf ya kemarin aku lagi banyak kerjaan.. Oh
ya, calonmu dari mana? Orangnya gimana?”, tanyaku dibanjiri perasaan penasaran.
“Dia asli Bandung Na... kerja di Jakarta. Pas awal lihat
CV-nya aku langsung tertarik, dan pas nadhor aku semakin yakin sama dia.
Orangnya terlihat sopan dan menghargai orang lain. Yang itu loh Na, yang aku
bilang ke kamu visinya hampir sama”
“Oh yang tipeku itu ya.. haha”, ujarku sambil bercanda.
“Iya Na, yang pernah
kuceritakan”
“Wah... semoga lancar
ya khitbahnya. Jadi gimana cerita pas nadhor?”, aku bertanya lagi. Ismi
menjelaskan penuh semangat.
Dari hasil perbincangan, Ismi akan melaksanakan khitbah
dan lamaran pekan depan dan ia mengajakku untuk hadir. Dalam acara khitbahnya
ia hanya mengundang sahabat dekat dan keluarga saja. Selain itu akan diadakan
pula pengajian bulanan keluarga di rumahnya.
Satu pekan sudah berlalu. Aku menatap diriku di depan
cermin dengan baju navy senada dengan
kerudungnya. Seperti biasa, aku mengendarai sepeda motor, motor matic yang
kupakai sejak aku masih SMA. Di tengah
perjalanan, ban motorku pecah. Aku hanya menghela nafas, mau tak mau kudorong
motorku sekitar 50 meter ke bengkel terdekat. Ya, lumayan lelah karena semalam
baru sampai di kota kecil ini, kutempuh 8 jam dari Jakarta ke Tasikmalaya.
Untungnya pekan ini sudah akhir tahun, aku memilih liburku di libur natal dan
lembur di akhir Desember hingga awal
tahun baru sehingga bisa pulang sekalian menghadiri acara pengajian dan khitbah
di rumah Ismi.
“Maaf pak, tolong dicek ban motor saya sepertinya bocor”,
pintaku pada lelaki paruh baya yang sedang membereskan kunci inggris dan
peralatannya.
“Iya teh”, jawabnya. Ia mengecek ban motorku dan
memastikan kerusakannya. “Ini bannya harus
ditambal teh”, ujarnya lagi.
“Oh iya pak, tambal aja”
Aku mengirimkan pesan singkat pada Ismi bahwa aku akan
datang terlambat. Separuh diriku merasa bersalah karena aku sudah bangun
kesiangan dan sekarang harus menunggu ban motor diperbaiki. Entah sempat atau
tidak untuk menyaksikan khitbah dan pengajiannya.
Setelah sekitar 40 menit, akhirnya ban selesai
diperbaiki. Kutancap gas secepat mungkin agar lebih cepat sampai tujuan.
Suasana di rumah Ismi tidak terlalu ramai, hanya beberapa
kerabat dekat dan aku beserta Ranita sahabat dekatnya yang datang. Begitu aku
datang, acara lamaran dan pengajian sudah selesai. Aku langsung dijamu untuk
makan siang. Kutemui Ismi dengan senyuman dan rasa penasaran. Penampilan Ismi
masih sederhana, hanya memakai bedak tipis dan lipbalm agar tak terlihat pucat
dibalut kerudung baby blue lengkap dengan dress warna baby blue yang elegan dan
simple.
“Mi... maaf aku telat ya. Kamu cantik banget Mi...”,
ucapku pada Ismi sambil memeluknya, ya aku merindukan sahabatku.
“Gak apa-apa Na, kamu pasti capek”, sahut Ismi
menenangkan.
“Enggak kok, buat kamu mah gak ada kata capek”, aku
tersenyum dan menggodanya. “Oh ya, mana calonmu?”, aku melanjutkan bertanya.
“Ya Ampun, aku lupa. Mana ya? Oh itu dia, lagi ngobrol
sama saudaraku”, Ismi mengarahkan mataku pada seseorang dengan baju koko putih
tulang yang sedang berbicara dengan sepupunya.
Itu dia. Lelaki bermata coklat, yang memberikan botol
minumku. Entah kenapa jantungku terpacu dan berdebar lebih kencang. Aku
mengutuk diriku sendiri, tak sengaja tertegun.
“Yang pakai koko putih tulang?”, aku bertanya
mengkonfirmasi.
“Iya”, jawabnya.
“Masyaa Allah, sepertinya dia shaleh dan baik Mi. Oh ya,
kapan pernikahan dilaksanakan?”, tanyaku lagi
berusaha menutupi keterkejutanku.
“Kalau tidak ada
halangan Insyaa Allah bulan depan Na, kamu datang ya”
“Insyaa Allah ya Mi, aku gak janji”
“Pokoknya harus datang. Kita kan udah janji. Siapa yang
nikah harus datang, dan kalau ada kerja minta cuti, harus diluangkan. Ya kan?”,
Ismi mengingatkan.
Aku menelan ludah mengiyakan. Aku bahagia dia akan
menikah, tapi kenapa dada ini sakit sekali. Sungguh konyol, aku hanya terkagum
karena lelaki itu mengembalikan botol minumku dengan sopan dan sekarang aku
merasa sakit karena ia akan menikah dengan sahabatku.
Senja Jakarta yang gersang menyambutku. Gedung-gedung itu menampakan kilatan jingganya, menghiburku yang termenung. Aku menarik nafasku lalu menghembuskannya perlahan. Aku ingin terpejam dan lupa. Angin senja
membawa resahku pergi.
Lelaki bermata coklat itu tersenyum dengan tuksedo putih
memandangi wanita impian yang sudah sah menjadi wanitanya. Dua insan bahagia,
hari ini adalah harinya, hari ini dunia milik mereka, hari ini seluruh waktu
milik mereka. Seolah tidak peduli dengan sekitar, aku hanya menatap lelaki
bermata coklat itu. Sakitku hilang, sejenak.
“Mbak, kampung rambutan mbak”, supir bus membangunkanku.
“Ah, iya bang”, aku tersadar dari mimpiku. Ini mimpi
keduaku, lelaki bermata coklat dengan setelan tuxedo itu. Mungkin rasa sakit
mengantarku pada mimpi ini.
Kuletakkan tasku dipinggir kasur, gerah menemani lelahku.
Seusai mandi, aku membasuh wajahku dan berwudhu. Lelah dan resahku mengalir
bersama air yang menghujaniku. Mengalir dan hilang bersamanya.
Rutinitas mengembalikan diriku kepada Jakarta yang
sesungguhnya. Jakarta yang selalu sibuk. Aku yang seperti gedung-gedung itu.
Ramai tapi tak bergeming. Semua berjalan seperti biasanya, gedung yang tetap
begitu, lingkungan yang tetap begitu, dan aku yang tetap begini. Tak berubah,
begitupun perasaanku. Aku semakin malu pada Sang Pencipta, sedetikpun aku tak
lupa padanya. Kudekatkan diri dengan lebih sering shalat sunat termasuk di
sepertiga malamku.
Tapi tak berubah. Aku masih dengan mimpiku. Lelaki dengan
setelan tuksedo itu masih mengunjungiku. Rutinitas masih tidak mengubah
mimpiku. Ia datang hampir seminggu sekali ke dalam mimpiku. Dengan mimpi yang
masih sama.
Mimpiku semakin bervariasi. Seminggu yang lalu, hari
keenam di Jakarta aku tiba-tiba pingsan di kantor. Rekan kerjaku bilang aku
hilang kesadaran selama 2 jam. Tapi anehnya aku merasa baik-baik saja. Aku
mencium wangi mawar, saat kubuka mataku, hamparan pohon mawar berbaris di
sekeliling lapangan. Di tengah taman tampak Ismi tertawa besama seorang anak
kecil. Lalu tiba-tiba aku mengantuk dan membuka mata lagi, Ismi menyiapkan
undangan pernikahannya yang sederhana dengan tempat di Taman Mawar. Saat aku
terbangun, wajah-wajah lega tergambar di sekelilingku. Rekan-rekanku
hampir melarikanku ke Rumah Sakit jika saja semenit lagi aku tak sadar. Aku
sudah di dalam mobil.
“Loh kenapa kalian buru-buru?”, tanyaku yang tidak tahu
sejak kapan aku sudah tertidur di jok mobil rekan kerjaku.
“Hana..... elu gak apa-apa? Pusing gak? Lemas? Sakit?”,
setengah teriak Anto bertanya dalam keadaan yang sudah siap di posisi
mengemudi, ia terlihat kaget melihatku terbangun.
“Hah? Gak apa-apa kenapa? Siapa yang sakit? Aku sehat
sepenuhnya.”, aku heran, mataku masih berat dan aku sedikit menguap.
“Kurang ajar, bikin kaget aja lu!”, Mbak Diana mencubit
lenganku. “Serius kagak kenapa-kenapa? Lagi sakit lu?
Tadi lu jatuh di lobi”, tambah mbak Diana dengan logat Betawinya.
“Sakit mbak, sakit dicubit. Selebihnya aku baik-baik
aja”, jawabku pada mbak Diana, akhirnya ia hanya mengelus dada dan bersyukur.
Mereka menceritakan peristiwa jatuhnya aku di lobi dan
mereka berusaha membangunkanku namun aku tak kunjung sadar.
Seminggu kemudian, tepatnya hari ini aku mendapat telepon
dari Ismi, dia bilang akan melangsungkan pernikahan di Taman Mawar, dan ia baru
akan menyiapkan undangannya hari ini. Aneh.
Aku bahkan tak pernah menceritakan mimpiku padanya.
Semakin lama semakin sering aku hilang kesadaran secara
tiba-tiba dan bangun dikerumuni orang. Entah kenapa dan entah sejak kapan aku
tak mengerti. Dan hal yang kuanggap bunga
tidur
ini seringkali menjadi nyata.
Aku tidak menceritakan bunga
tidurku
pada siapapun. Mungkin siapapun akan menganggapku ngawur dan mengusulkanku
pergi ke psikolog alih-alih mempercayai omonganku.
Mbak Diana meyakinkanku untuk melakukan pemeriksaan kesehatan meski aku merasa baik-baik saja. Ia bersikeras.
Dan
hasilnya aku sehat, tidak ada gangguan kesehatan yang ditemukan. Mbak Diana
masih tetap ingin meyakinkan dan mencoba mengajakku ke Rumah Sakit lain. Sampai
tiga Rumah Sakit, dengan hasil sama.
Mungkin
hanya gangguan karena terlalu lelah atau bisa jadi ada hal yang membebani
pikiranku, kata dokter. Ia menyarankan agar aku tidak memikirkan hal-hal yang membuatku
stress. Aku hanya manggut-manggut mengiyakan.
Baiklah.
Aku terlalu lelah, aku yakin. Aku tak boleh memikirkan lelaki itu.
Seperti
biasanya, Jum'at ini aku mengikuti kajian. Ummu Annisa menatap wajahku. Tak
seperti biasanya.
"Kamu
kenapa Hana?", ia bertanya.
"Kenapa
apanya Ummu? Saya tidak apa-apa", aku tambah heran dengan pertanyaannya.
Sekejap
buram menerpa. Gelap menyelinap.
"Memikirkannya?
Coba ingat apa pintamu pada Allah, mungkin itu akan menjawab
pertanyaanmu", ujarnya lagi, aku terkejut.
"Ya
Allah, hamba memohon petunjuk-Mu..", aku menatap diriku yang bersimpuh
diatas sajadah. Memanjatkan do'a-do'a pada pencipta. Memuja-Nya manja,
merayu-Nya mesra. Dia meminta selalu dekat dengan-Nya, dan... dan dia meminta
sesosok lelaki yang mencintai-Nya. Meminta lelaki yang tak pernah
melupakan-Nya. Itu aku. Aku setahun yang lalu, saat aku sadar betapa salahnya
aku bersandar pada manusia. Setelah sadar bahwa aku terlalu cinta dunia. Cinta
atas nama Allah menjadikan dunia dalam genggaman manusia. Sejatinya cinta hanya
kepada Allah, menyerahkan diri seutuhnya kepada-Nya menjadikanku makhluk paling
bahagia. Kemudian aku meminta makhluk-Nya, yang mencintai-Nya, yang tak pernah
melupakan-Nya. Aku menginginkan lelaki yang menyimpan dunia dalam genggamannya
dan menyimpan Allah dalam hatinya.
Aku
menarik nafas panjang dan tersedak. Aroma minyak kayu putih yang tajam menusuk
hidungku. Tangan Ummu melingkar di belakang leherku, aku terbaring lagi. Ia
memandangku heran.
"Kamu
baik-baik saja?", Ummu bertanya.
"Ah
iya Ummu, saya tidak apa-apa", jawabku singkat seraya duduk dan
membetulkan posisiku.
Ummu
terlihat khawatir. Ia menawariku tumpangan pulang namun aku menolaknya. Aku
meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja dan aku bisa pulang sendiri mengingat
jauhnya rumah Ummu, bahkan rumah kami tidak searah.
Setelah
kajian ini aku harus segera pulang kampung, pernikahan Ismi akan berlangsung
besok.
Semua
orang berkerumun untuk melihat sepasang insan merayakan harinya. Hari untuk
Ismi dan lelakinya. Aku tertegun. Setengah tak percaya dan setengah bahagia.
Entah bahagia ini benar atau tidak. Aku menatap Ismi yang sedang melaksanakan
akad nikah. Mempelai pria itu bukan lelaki bermata coklat dengan tuksedo putih
yang ada dalam tidurku. Dia bukan sosok yang kukenal.
Sampai
akhirnya sesi foto kulihat lelaki bermata coklat berdiri disamping mempelai
pria, dia tersenyum. Sejuk.
Selesai
acara pernikahan aku berbincang dengan Ismi. Ia tertawa ketika kuceritakan
bahwa aku salah mengira mempelai pria. Ia justru memberiku CV.
"Aku
sudah menyimpan ini sejak kamu terakhir kesini, sejak khitbah. Adiknya mas
tertarik padamu", ujarnya.
Adiknya
suami Ismi, lelaki bermata coklat itu. Hormon endorfin memenuhi tubuhku,
bahagia menjalar tanpa permisi. Aku memeluk Ismi yang sekarang heran menatapku
yang terlalu bahagia.
Sudah
enam bulan sejak saat itu, sejak pertukaran CV. Dan sebulan yang lalu aku telah
melaksanakan khitbah dan lamaran. Aku tak bermimpi lagi sejak saat itu.
Hari
ini mimpi itu terjadi. Aku tertunduk bahagia, aku tidak boleh menangis atau
make up-ku akan luntur. Sekarang aku berdiri dengan gaun putih disamping lelaki
bermata coklat dengan tuksedo putih yang melengkapi separuh agamaku, menjadi
imamku. Perayaaan yang selama ini mengunjungiku. Hariku dan harinya.
Maha
Suci Allah dengan segala Kuasa-Nya.
- selesai -
Btw, sebenarnya cerpen ini sempat ikut dilombakan di shiramedia, tapi bukan sebagai pemenang. Semoga sedikit menghibur :)