Minggu, 23 Februari 2020

Pagi, siang, dan senja

Mata yang samar disapa dingin yang menjalar
Pagiku menunggu di gagang pintu
Kusambut bersama jenuh
Belum senjaku datang, keluh menghadang
Aku tak bisa abai, kujemput siang
"Dep.. dep.. dep.." kakiku berderap
Aku termangu, kutanya siang
Tapi tak ada ada jawaban
Kutunggu senja sampai ia perbolehkanku pulang

Selasa, 10 Desember 2019

Pendar

Jemu menjalar
Nalar berpendar
Hilang nanar
Aku gusar

Remah remuk redam
Entah mana yang datang awal
Hilang pergi karam
Entah mana yang datang awal

Jelajah gawai
Mengisi kembali ingatan pudar
Jelajah usai
Menanti yang henti risau

Minggu, 15 September 2019

Penyuara telinga,
Gawai.
Simpan, lalu kumainkan lagi
Penyuara telinga,
Gawai.
Jariku lantas menyapa sepi gawai yang berulangkali kukunjungi tanpa memberi kabar
Telingaku ramai dengan suara penyanyi yang berulangkali kudengar bersahutan
Entah apa yang kutunggu

Selasa, 25 Desember 2018

Jingga? Bukan


Dentuman itu mengejutkanku
Padahal sempat kemarin bercengkrama
Rupanya siapku hanya di ucap
Nyatanya dentuman itu lebih sigap

Jingga dan hitam
Ekspektasi dan asumsi
Aku kalut dengan ucapku
Sudah hitam, kuterima payahku

Selasa, 23 Oktober 2018

Aku di Stasiun

Bisingnya pejalan kaki
Bisingnya malam hari di stasiun
Menjadi teman bicaraku

Irama kereta dan aroma manusia
Datang dan pergi
Menganyam kepastian

Anginnya malam dan terangnya bohlam di pinggiran jalan
Bersama jajanan-jajanan stasiun
Menghias keramaian

Iringan kotak musik dan ondel-ondel
Pengamen dan gitarnya
Menghiburku kejauhan

Tetap tak mengubah
Tungguku tak pernah pasti
Hiburku berapi menjadi-jadi

Sabtu, 07 Juli 2018

Cerpen: Lelaki Bermata Coklat



Seorang lelaki duduk berdampingan dipisahkan hijab (penghalang) dengan seorang wanita yang didampingi walinya, senyumnya terlihat ketika ia memandang wali pengantin wanitanya. Lelaki bermata coklat dengan rambut rapinya dan setelan tuksedo tersenyum bahagia disamping pengantin wanitanya, memandangnya sesekali tampak tidak percaya. Mempelai wanitanya memakai pakaian yang tampak sederhana dan elegan, kerudungnya panjang menutupi dada dan punggung, tidak terlihat lekuk tubuhnya tapi tetap terasa kharismanya.
Aku memilih duduk di kerumunan orang barisan kedua, penasaran dengan wajah pengantin wanitanya yang tertunduk itu. Setelah ijab qabul, kedua pengantin itu bergerak mundur dan bersatu di kerumunan pada barisan terdepan. Rupanya pernikahan ini dilangsungkan dengan syariat islam dimana tamu pria dan tamu wanita ditempatkan terpisah.
Kupandangi pengantin wanita dari belakang, ingin menyapanya dan melihat wajahnya namun terlalu jauh jaraknya. Aku berada di ujung sisi kanan dekat pintu keluar, sedangkan ia berada di ujung sisi kiri. Aku menunggunya menoleh.
Tiba-tiba dadaku sesak, terasa seperti udara menyeruak masuk memenuhi dadaku. Rasa sakit mendadak muncul dalam dadaku. Mataku membantah dan terbelalak.
Kupaksa diriku bangun dari tempat tidur yang nyaman, fajar mulai muncul di sudut jendela kamarku. Setelah menunaikan shalat subuh, dengan malas kuseret diriku keluar kamar. Aku bergegas memakai sepatu, melakukan pemanasan dan lari pagi seperti biasanya. Tentu harus jogging pagi ini, berat badanku bertambah karena kurangnya mobilitas tubuhku. Ditambah lagi sekarang aku lebih sering khilaf ketika melihat makanan, sering lapar padahal sudah kenyang. Aku tidak boleh serakah lagi, badanku mulai berat dan bajuku mulai sesak.
Kunikmati setiap hentakan kakiku diatas tanah. Aroma daun yang berembun melawan malasku, segar. Di bawah pohon yang rindang aku bersandar dan melepas lelahku. Setelah duduk sepuluh menit, kuputuskan berlari sepanjang perjalanan pulang ke rumah.
“Mbak! Mbak, sebentar mbak”, panggil seorang lelaki di belakangku. Aku tidak menoleh, mungkin bukan memanggilku pikirku. Tapi lelaki itu mempercepat larinya dan menyusulku.
“Maaf mbak, ini botol minum milik mbak bukan?”, tanyanya sambil menatapku sebentar kemudian beralih menatap botol minum yang berwarna biru.
“Oh, iya mas. Terimakasih”, jawabku malu. Entah kenapa perasaan dan pikiranku terasa berputar, seperti deja vu rasanya. Aku pernah mengalaminya. Aku mengenalnya.
Lelaki itu kemudian pergi. Tak kulepas pandanganku, aku tersadar. Astagfirullah, tidak seharusnya aku memandangnya lebih lama. Aku terkesan dengan kebaikannya, dengan sikapnya. Lelaki yang menghargai wanita.

Mentari menatap cerah diluar jendela. Ponselku bergetar membuyarkan lamunanku. “Halo, assalamu’alaikum”, sapaku.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah Na.. lagi ngapain?”, tanya Ismi.
“Lagi rapiin kerjaan, kan udah jam makan siang. Kenapa Mi?”, aku merapikan mejaku sebelum berangkat makan siang.
“Na, aku mau khitbah dan lamaran minggu depan”, jawabnya di seberang telepon.
“Wah... alhamdulillah. Kapan nadhornya? Kok gak bilang.. Aku ketinggalan info nih”, tanyaku agak kecewa karena bahkan kapan nadhornya (nadhor, melihat calon pasangan sebelum diadakannya khitbah/peminangan) pun aku tidak tahu.
“Iya, maaf Na.. aku kelupaan. Kemarin mau bilang kamu malah sibuk terus, jadinya ketunda terus dan sekarang baru sempat bilang”, jawabnya.
“Oh... iya maaf ya kemarin aku lagi banyak kerjaan.. Oh ya, calonmu dari mana? Orangnya gimana?”, tanyaku dibanjiri perasaan penasaran.
“Dia asli Bandung Na... kerja di Jakarta. Pas awal lihat CV-nya aku langsung tertarik, dan pas nadhor aku semakin yakin sama dia. Orangnya terlihat sopan dan menghargai orang lain. Yang itu loh Na, yang aku bilang ke kamu visinya hampir sama”
“Oh yang tipeku itu ya.. haha”, ujarku sambil bercanda.
“Iya Na, yang pernah kuceritakan
Wah... semoga lancar ya khitbahnya. Jadi gimana cerita pas nadhor?”, aku bertanya lagi. Ismi menjelaskan penuh semangat.
Dari hasil perbincangan, Ismi akan melaksanakan khitbah dan lamaran pekan depan dan ia mengajakku untuk hadir. Dalam acara khitbahnya ia hanya mengundang sahabat dekat dan keluarga saja. Selain itu akan diadakan pula pengajian bulanan keluarga di rumahnya.

Satu pekan sudah berlalu. Aku menatap diriku di depan cermin dengan baju navy senada dengan kerudungnya. Seperti biasa, aku mengendarai sepeda motor, motor matic yang kupakai sejak aku masih SMA. Di tengah perjalanan, ban motorku pecah. Aku hanya menghela nafas, mau tak mau kudorong motorku sekitar 50 meter ke bengkel terdekat. Ya, lumayan lelah karena semalam baru sampai di kota kecil ini, kutempuh 8 jam dari Jakarta ke Tasikmalaya. Untungnya pekan ini sudah akhir tahun, aku memilih liburku di libur natal dan lembur di  akhir Desember hingga awal tahun baru sehingga bisa pulang sekalian menghadiri acara pengajian dan khitbah di rumah Ismi.
“Maaf pak, tolong dicek ban motor saya sepertinya bocor”, pintaku pada lelaki paruh baya yang sedang membereskan kunci inggris dan peralatannya.
“Iya teh”, jawabnya. Ia mengecek ban motorku dan memastikan kerusakannya. “Ini bannya harus ditambal teh”, ujarnya lagi.
“Oh iya pak, tambal aja”
Aku mengirimkan pesan singkat pada Ismi bahwa aku akan datang terlambat. Separuh diriku merasa bersalah karena aku sudah bangun kesiangan dan sekarang harus menunggu ban motor diperbaiki. Entah sempat atau tidak untuk menyaksikan khitbah dan pengajiannya.
Setelah sekitar 40 menit, akhirnya ban selesai diperbaiki. Kutancap gas secepat mungkin agar lebih cepat sampai tujuan.
Suasana di rumah Ismi tidak terlalu ramai, hanya beberapa kerabat dekat dan aku beserta Ranita sahabat dekatnya yang datang. Begitu aku datang, acara lamaran dan pengajian sudah selesai. Aku langsung dijamu untuk makan siang. Kutemui Ismi dengan senyuman dan rasa penasaran. Penampilan Ismi masih sederhana, hanya memakai bedak tipis dan lipbalm agar tak terlihat pucat dibalut kerudung baby blue lengkap dengan dress warna baby blue yang elegan dan simple.
“Mi... maaf aku telat ya. Kamu cantik banget Mi...”, ucapku pada Ismi sambil memeluknya, ya aku merindukan sahabatku.
“Gak apa-apa Na, kamu pasti capek”, sahut Ismi menenangkan.
“Enggak kok, buat kamu mah gak ada kata capek”, aku tersenyum dan menggodanya. “Oh ya, mana calonmu?”, aku melanjutkan bertanya.
“Ya Ampun, aku lupa. Mana ya? Oh itu dia, lagi ngobrol sama saudaraku”, Ismi mengarahkan mataku pada seseorang dengan baju koko putih tulang yang sedang berbicara dengan sepupunya.
Itu dia. Lelaki bermata coklat, yang memberikan botol minumku. Entah kenapa jantungku terpacu dan berdebar lebih kencang. Aku mengutuk diriku sendiri, tak sengaja tertegun.
“Yang pakai koko putih tulang?”, aku bertanya mengkonfirmasi.
“Iya”, jawabnya.
“Masyaa Allah, sepertinya dia shaleh dan baik Mi. Oh ya, kapan pernikahan dilaksanakan?”, tanyaku lagi berusaha menutupi keterkejutanku.
Kalau tidak ada halangan Insyaa Allah bulan depan Na, kamu datang ya”
“Insyaa Allah ya Mi, aku gak janji”
“Pokoknya harus datang. Kita kan udah janji. Siapa yang nikah harus datang, dan kalau ada kerja minta cuti, harus diluangkan. Ya kan?”, Ismi mengingatkan.
Aku menelan ludah mengiyakan. Aku bahagia dia akan menikah, tapi kenapa dada ini sakit sekali. Sungguh konyol, aku hanya terkagum karena lelaki itu mengembalikan botol minumku dengan sopan dan sekarang aku merasa sakit karena ia akan menikah dengan sahabatku.

Senja Jakarta yang gersang menyambutku. Gedung-gedung itu menampakan kilatan jingganya, menghiburku yang termenung. Aku menarik nafasku lalu menghembuskannya perlahan. Aku ingin terpejam dan lupa. Angin senja membawa resahku pergi.
Lelaki bermata coklat itu tersenyum dengan tuksedo putih memandangi wanita impian yang sudah sah menjadi wanitanya. Dua insan bahagia, hari ini adalah harinya, hari ini dunia milik mereka, hari ini seluruh waktu milik mereka. Seolah tidak peduli dengan sekitar, aku hanya menatap lelaki bermata coklat itu. Sakitku hilang, sejenak.
“Mbak, kampung rambutan mbak”, supir bus membangunkanku.
“Ah, iya bang”, aku tersadar dari mimpiku. Ini mimpi keduaku, lelaki bermata coklat dengan setelan tuxedo itu. Mungkin rasa sakit mengantarku pada mimpi ini.
Kuletakkan tasku dipinggir kasur, gerah menemani lelahku. Seusai mandi, aku membasuh wajahku dan berwudhu. Lelah dan resahku mengalir bersama air yang menghujaniku. Mengalir dan hilang bersamanya.
Rutinitas mengembalikan diriku kepada Jakarta yang sesungguhnya. Jakarta yang selalu sibuk. Aku yang seperti gedung-gedung itu. Ramai tapi tak bergeming. Semua berjalan seperti biasanya, gedung yang tetap begitu, lingkungan yang tetap begitu, dan aku yang tetap begini. Tak berubah, begitupun perasaanku. Aku semakin malu pada Sang Pencipta, sedetikpun aku tak lupa padanya. Kudekatkan diri dengan lebih sering shalat sunat termasuk di sepertiga malamku.
Tapi tak berubah. Aku masih dengan mimpiku. Lelaki dengan setelan tuksedo itu masih mengunjungiku. Rutinitas masih tidak mengubah mimpiku. Ia datang hampir seminggu sekali ke dalam mimpiku. Dengan mimpi yang masih sama.
Mimpiku semakin bervariasi. Seminggu yang lalu, hari keenam di Jakarta aku tiba-tiba pingsan di kantor. Rekan kerjaku bilang aku hilang kesadaran selama 2 jam. Tapi anehnya aku merasa baik-baik saja. Aku mencium wangi mawar, saat kubuka mataku, hamparan pohon mawar berbaris di sekeliling lapangan. Di tengah taman tampak Ismi tertawa besama seorang anak kecil. Lalu tiba-tiba aku mengantuk dan membuka mata lagi, Ismi menyiapkan undangan pernikahannya yang sederhana dengan tempat di Taman Mawar. Saat aku terbangun, wajah-wajah lega tergambar di sekelilingku. Rekan-rekanku hampir melarikanku ke Rumah Sakit jika saja semenit lagi aku tak sadar. Aku sudah di dalam mobil.
“Loh kenapa kalian buru-buru?”, tanyaku yang tidak tahu sejak kapan aku sudah tertidur di jok mobil rekan kerjaku.
“Hana..... elu gak apa-apa? Pusing gak? Lemas? Sakit?”, setengah teriak Anto bertanya dalam keadaan yang sudah siap di posisi mengemudi, ia terlihat kaget melihatku terbangun.
“Hah? Gak apa-apa kenapa? Siapa yang sakit? Aku sehat sepenuhnya.”, aku heran, mataku masih berat dan aku sedikit menguap.
“Kurang ajar, bikin kaget aja lu!”, Mbak Diana mencubit lenganku. “Serius kagak kenapa-kenapa? Lagi sakit lu? Tadi lu jatuh di lobi”, tambah mbak Diana dengan logat Betawinya.
“Sakit mbak, sakit dicubit. Selebihnya aku baik-baik aja”, jawabku pada mbak Diana, akhirnya ia hanya mengelus dada dan bersyukur.
Mereka menceritakan peristiwa jatuhnya aku di lobi dan mereka berusaha membangunkanku namun aku tak kunjung sadar.
Seminggu kemudian, tepatnya hari ini aku mendapat telepon dari Ismi, dia bilang akan melangsungkan pernikahan di Taman Mawar, dan ia baru akan menyiapkan undangannya hari ini. Aneh. Aku bahkan tak pernah menceritakan mimpiku padanya.
Semakin lama semakin sering aku hilang kesadaran secara tiba-tiba dan bangun dikerumuni orang. Entah kenapa dan entah sejak kapan aku tak mengerti. Dan hal yang kuanggap bunga tidur ini seringkali menjadi nyata.
Aku tidak menceritakan bunga tidurku pada siapapun. Mungkin siapapun akan menganggapku ngawur dan mengusulkanku pergi ke psikolog alih-alih mempercayai omonganku.
Mbak Diana meyakinkanku untuk melakukan pemeriksaan kesehatan meski aku merasa baik-baik saja. Ia bersikeras.
Dan hasilnya aku sehat, tidak ada gangguan kesehatan yang ditemukan. Mbak Diana masih tetap ingin meyakinkan dan mencoba mengajakku ke Rumah Sakit lain. Sampai tiga Rumah Sakit, dengan hasil sama.
Mungkin hanya gangguan karena terlalu lelah atau bisa jadi ada hal yang membebani pikiranku, kata dokter. Ia menyarankan agar aku tidak memikirkan hal-hal yang membuatku stress. Aku hanya manggut-manggut mengiyakan.
Baiklah. Aku terlalu lelah, aku yakin. Aku tak boleh memikirkan lelaki itu.
Seperti biasanya, Jum'at ini aku mengikuti kajian. Ummu Annisa menatap wajahku. Tak seperti biasanya.
"Kamu kenapa Hana?", ia bertanya.
"Kenapa apanya Ummu? Saya tidak apa-apa", aku tambah heran dengan pertanyaannya.
Sekejap buram menerpa. Gelap menyelinap.
"Memikirkannya? Coba ingat apa pintamu pada Allah, mungkin itu akan menjawab pertanyaanmu", ujarnya lagi, aku terkejut.
"Ya Allah, hamba memohon petunjuk-Mu..", aku menatap diriku yang bersimpuh diatas sajadah. Memanjatkan do'a-do'a pada pencipta. Memuja-Nya manja, merayu-Nya mesra. Dia meminta selalu dekat dengan-Nya, dan... dan dia meminta sesosok lelaki yang mencintai-Nya. Meminta lelaki yang tak pernah melupakan-Nya. Itu aku. Aku setahun yang lalu, saat aku sadar betapa salahnya aku bersandar pada manusia. Setelah sadar bahwa aku terlalu cinta dunia. Cinta atas nama Allah menjadikan dunia dalam genggaman manusia. Sejatinya cinta hanya kepada Allah, menyerahkan diri seutuhnya kepada-Nya menjadikanku makhluk paling bahagia. Kemudian aku meminta makhluk-Nya, yang mencintai-Nya, yang tak pernah melupakan-Nya. Aku menginginkan lelaki yang menyimpan dunia dalam genggamannya dan menyimpan Allah dalam hatinya.
Aku menarik nafas panjang dan tersedak. Aroma minyak kayu putih yang tajam menusuk hidungku. Tangan Ummu melingkar di belakang leherku, aku terbaring lagi. Ia memandangku heran.
"Kamu baik-baik saja?", Ummu bertanya.
"Ah iya Ummu, saya tidak apa-apa", jawabku singkat seraya duduk dan membetulkan posisiku.
Ummu terlihat khawatir. Ia menawariku tumpangan pulang namun aku menolaknya. Aku meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja dan aku bisa pulang sendiri mengingat jauhnya rumah Ummu, bahkan rumah kami tidak searah.
Setelah kajian ini aku harus segera pulang kampung, pernikahan Ismi akan berlangsung besok.

Semua orang berkerumun untuk melihat sepasang insan merayakan harinya. Hari untuk Ismi dan lelakinya. Aku tertegun. Setengah tak percaya dan setengah bahagia. Entah bahagia ini benar atau tidak. Aku menatap Ismi yang sedang melaksanakan akad nikah. Mempelai pria itu bukan lelaki bermata coklat dengan tuksedo putih yang ada dalam tidurku. Dia bukan sosok yang kukenal.
Sampai akhirnya sesi foto kulihat lelaki bermata coklat berdiri disamping mempelai pria, dia tersenyum. Sejuk.
Selesai acara pernikahan aku berbincang dengan Ismi. Ia tertawa ketika kuceritakan bahwa aku salah mengira mempelai pria. Ia justru memberiku CV.
"Aku sudah menyimpan ini sejak kamu terakhir kesini, sejak khitbah. Adiknya mas tertarik padamu", ujarnya.
Adiknya suami Ismi, lelaki bermata coklat itu. Hormon endorfin memenuhi tubuhku, bahagia menjalar tanpa permisi. Aku memeluk Ismi yang sekarang heran menatapku yang terlalu bahagia.

Sudah enam bulan sejak saat itu, sejak pertukaran CV. Dan sebulan yang lalu aku telah melaksanakan khitbah dan lamaran. Aku tak bermimpi lagi sejak saat itu.
Hari ini mimpi itu terjadi. Aku tertunduk bahagia, aku tidak boleh menangis atau make up-ku akan luntur. Sekarang aku berdiri dengan gaun putih disamping lelaki bermata coklat dengan tuksedo putih yang melengkapi separuh agamaku, menjadi imamku. Perayaaan yang selama ini mengunjungiku. Hariku dan harinya.
Maha Suci Allah dengan segala Kuasa-Nya.

- selesai -



Btw, sebenarnya cerpen ini sempat ikut dilombakan di shiramedia, tapi bukan sebagai pemenang. Semoga sedikit menghibur :)

Rabu, 13 September 2017

Resume: Stratifikasi Sosial, Perubahan Sosial, Sosiologi Kesehatan



Stratitifikasi Sosial (Lapisan Masyarakat)
Merupakan pembedaan posisi seseorang atau suatu kelompok dalam kedudukan yang berbeda-beda secara vertikal. Stratitifkasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hierarkis).
Tipe dalam lapisan sosial
1.      Dapat terjadi dengan sendirinya
2.      Sengaja disusun untuk tujuan bersama
Pedoman untuk meneliti pokok-pokok terjadinya proses lapisan dalam masyarakat:
1.      Sistem pertentangan hanya mempunyai arti khusus pada masyarakat tertentu
2.      Sistem sosial dapat dianalisis dalam arti-arti:
a.       Distribusi hak-hak istimewa yang objektif seperti penghasilan, kekayaan, keselamatan
b.      Sistem pertentangan yg diciptakan masyarakat (prestise dan penghargaan)
c.       Kriteria sistem pertentangan dapat berdasarkan kualitas pribadi, kenggotaan kelompok kerabat tertentu, milik, wewenang/kekuasaan
d.      Lambang-lambang kedudukan seperti tingkah laku, cara berpakaian , perumahan, keanggotaan pada organisasi
e.       Mudah-sukarnya bertukar kedudukan
f.       Solidaritas individu/kelompok sosial yang menduduki kedudukan yang sama dakam sistem sosial masyarakat:
-          Pola-pola interaksi
-          Kesamaan/ketidaksamaan sistem kepercayaan, sikap dan nilai-nilai
-          Kesadaran akan kedudukan masing-masing
-          Aktivitas sebagai organ kolektif
Sifat sistem lapisan sosial dalam masyarakat
1.      Tertutup (closed social stratification), mobilitas terbatas,  dengan jalan keturunan
2.      Terbuka (open social stratification), kemungkinan mobilitas besar
3.      Campuran
Kriteria untuk menggolongkan anggota masyarakat ke dalam suatu lapisan:
1.      Ukuran kekayaan / materiil
2.      Ukuran kekuasaan
3.      Ukuran kehormatan
4.      Ukuran ilmu pengetahuan
Unsur-unsur baku dalam sistem lapisan sosial masyarakat
1.      Kedudukan, tempat seseorang dalam pola tertentu
a.       Ascribed status: didapatkan tanpa memperhatikan perbedaan rohaniah dan kemampuan, diperoleh karena kelahiran
b.      Achieved status: dicapai dengan usaha, bersifat terbuka dan tergantung kemampuan dalam mengejar serta mencapai tujuannya
c.       Assigned status: kedudukan yang diberikan, misalnya karena jasa kepada masyarakat
2.      Peranan (role), seseorang yg melaksanakan hak dan kewajibannya
a.       Meliputi norma dengan posisi/tempat seseorang dalam masyarakat
b.      Merupakan konsep suatu perihal yang dapat dilakukan individu dalam masyarakat sebagai organisasi
c.       Perilaku individu yang penting bagi struktur sosial

Perubahan sosial
Segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
faktor yang menjadi penyebab terjadinya perubahan sosial yaitu :
1. Faktor Internal
  • Perubahan Jumlah Penduduk
  • Penemuan Penemuan Baru dalam Masyarakat
  • Konflik
  • Pemberontakan atau Gerakan Revolusi

2. Faktor Eksternal
  • Alam
  • Peperangan
  • Pengaruh dari Masyarakat lain
Ciri-Ciri Perubahan Sosial
a.      Tidak ada masyarakat yang berhenti berkembang (dinamis)
b.      Perubahan pada satu lembaga akan menyebabkan perubahan pada lembaga lainnya.
c.       Perubahan yang cepat (revolusi) dapat menyebabkan disorganisasi dalam kelompok dan bersifat sementara
d.      Perubahan sosial tidak hanya mencakup materiel / spiritualnya saja  tapi mencakup keduanya.
Teori Perubahan Sosial
1. Teori Evolusi, perubahan sosial terjadi karena perubahan pada cara pengorganisasian masyarakat, sistem kerja, pola pemikiran dan perkembangan sosial. Perubahan sosial dalam teori evolusi jarang menimbulkan konflik karena perubahannya berlangsung lambat dan cenderung tidak disadari.
Menurut Soerjono Soekanto terdapat tiga teori utama dalam evolusi :
  • Teori Evolusi Uniliniear, manusia dan masyarakat mengalami perkembangan yang sesuai dengan tahap tahap tertentu
  • Teori Evolusi Universal, perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahapan tertentu yang tetap karena kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi tertentu.
  • Teori Evolusi Multiliniear, perubahan sosial dapat terjadi dalam beberapa cara, tetapi cara tersebut akan mengarah ke arah yang sama, yaitu membentuk masyrakat yang lebih baik.
2. Teori Konflik, perubahan sosial terbentuk karena adanya konflik dan ketegangan dalam masyarakat. Jika memang perubahan yang dikehendaki berhasil tercapai, maka pada akhirnya masyarakat yang terbentuk akan hidup tanpa pembagian kelas.
3. Teori Fungsionalis, ketidakpuasan masyarakat terhadap keadaan sosial yang sedang berlaku merupakan penyebab utama terjadinya perubahan sosial. Tetapi apabila hanya kelompok minoritas dengan kekuatan kecil yang menginginkan perubahan, maka perubahan tersebut sulit untuk tercapai.
4. Teori Siklus, perubahan sosial ini bagaikan roda yang sedang berputar, artinya perubahan zamam merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari oleh manusia dan tidak dapat dikendalikan oleh siapapun.
Macam-macam Bentuk Perubahan Sosial
1.      Berdasarkan Kecepatan terjadinya
a.       Perubahan Evolusi
b.      Perubahan Revolusi
2.      Berdasarkan Perencanaanya
a.       Perubahan Sosial yang Direncanakan
b.      Perubahan sosial yang Tidak Direncanakan
3.      Berdasarkan Pengaruhnya
a.       Perubahan Sosial yang Berpengaruh Besar
b.      Perubahan Sosial yang Pengaruhnya Kecil

Adapun manfaat mempelajari sosiologi bagi kesehatan adalah sebagai berikut
1.      Mempelajari cara orang meminta pertolongan medis (help-seeking)
2.      Memberikan analisis mengenai hubungan tenaga medis dan klien
3.      Mengetahui latar belakang sosial-ekonomi masyarakat dalam pemanfaatan layanan kesehatan
4.      Menganalisis faktor-faktor sosial dalam hubungannya dengan etiologi penyakit
5.      Analisis sosiologis mengenai masalah sosial mengenai sakit, cacat fisik, dan sejenisnya yang merupakan fakta sosial.

Dalam sosologi kesehatan dikenal beberapa istilah yang menunjukan sumbangan atauperan sosiologi pada bidang kesehatan yaitu :
1.      Sosiology in medicine, sosiologi yang bekerjasama secara langsung dengan dokter dan staf kesehatan lainnya di dalam mempelajari faktor sosial yang relevan dengan terjadinya gangguan kesehatan ataupun sosiolog berusaha berhubungan langsung dengan perawatan pasien atau untuk memecahkan masalah kesehatan masyarakat.
2.      Sosiology of medicine, berhubungan dengan organisasi, nilai, kepercayaan terhadap praktek kedokteran sebagai bentuk dari perilaku manusia yang berada dalam lingkup pelayanan kesehatan, sumber daya manusia untuk  membangun kesehatan dan  pelatihan bagi petugas kesehatan.
3.      Sosiology for medicine, berhubungan dengan strategi metodologi yang dikembangkan sosiologi untuk kepentingan bidang pelayanan kesehatan. Peran ini juga meliputi prosedur sistematis multivariate serta analisis faktordan analisis jaringan yang biasa digunakan para sosiolog dalam mengumpulkandata atau menjelaskan hasil penelitian.
4.      Sosiology from medicine, nenganalisis lingkungan kedokteran dari perspektif social.
5.      Sosiology at medicine, merupakan bagian yang lebih banyak mengamati orientasi politik dan ideologi yang berhubungan dengan kesehatan
6.      Sociology around medicine, menunjukkan bagaimana sosiologi menjadi bagian atau berinteraksi dengan ilmulain seperti anthropologi, ekonomi, etnologi, filosofi hukum maupun bahasa.

Referensi:
1.      Soekanto, Soerjono. 2013. Sosiologi Suatu Pengantar, ed. Revisi. Jakarta: Rajawali Pers.
2.      Ahablog. 2012. Perubahan Sosial : Pengertian, Ciri, Bentuk, Faktor, Teori. [Online]. Tersedia: http://www.ilmudasar.com/2017/05/Pengertian-Ciri-Bentuk-Faktor-dan-Teori-Perubahan-Sosial-adalah.html.
3.      Az-zahrawi, Azizah. 2012. Sosiologi dalam Kesehatan. [Online]. Tersedia: https://www.scribd.com/doc/95273311/sosiologi-dalam-kesehatan#user-util-view-profile.

Pagi, siang, dan senja

Mata yang samar disapa dingin yang menjalar Pagiku menunggu di gagang pintu Kusambut bersama jenuh Belum senjaku datang, keluh menghadan...