Trio cupu, itulah julukan yang diberikan anak-anak pada geng Trio Cupu (Nindya, Ita, dan Disya). Sebenarnya, mereka nggak pengen membentuk geng, tapi itu hanya julukan saja. Mereka diberi julukan seperti itu karena mereka anak-anak yang paling gaul (dlm pelajaran), penempilannya pun punky abiez (punkynya udah abis) mereka pake kaca mata (bukan kaca mata minus) yang sebenernya supaya seragam alias cuma buat aksesoris doang (yang pake kaca mata minus hanya Ita) dan setiap hari pasti bawa buku (yang mereka bawa itu bukan buku pelajaran tapi novel pinjaman dari perpus).
Profile trio cupu:
Yang pertama Nindya, nama panjangnya Nindya Gisyanti. Orangnya cantik, plus manis dan imut, sebenarnya matanya nggak minus tapi pake kacamata. Dia itu cantik dan paling cantik dalam gengnya. Dan satu lagi, dia jago basket.
Yang kedua Ita, nama panjangnya Mita Agistya. Cewek manis (bahasa halusnya), jenius, dan berkaca mata. Jeniusnya bukan main, pokoknya dia makhluk paling jenius di sekolah, dia juga jago karate.
Yang ketiga Disya, nama panjangnya Nia Disya Andini. Cewek ceroboh, cantik, tapi berbadan double XL. Dia juga matanya nggak minus kok! Katanya sih, “supaya seragam, jadi pas banget dengan julukan trio cupu”.
Eit! Tambah satu lagi, tapi bukan anggota trio cupu lho! Namanya Indira Herdyana, nama panggilannya Dira. Cantik, sebenernya baik. Cewek ini pintar, tapi nggak sepintar trio cupu. Dia juga seorang modeling busana muslim remaja, dia sudah menginjak dunia model sudah lbh krg satu tahun semenjak kls dua SMP.
Bel istirahat berbunyi…
Ita membenarkan kaca matanya, lalu berbicara “Eh Nin, emang bener ya kalau lusa Indira mau ngadain syukuran ultahnya?”
“Iya, emangnya kenapa?”, jawab Nindya.
“Emangnya kamu mau dateng apa?”, tanya Disya, teman Nindya yang badannya double XL pada Disya, temannya yang berbadan minus S.
“Kita ‘kan di undang, masa’ nggak datang sih?”, jawabnya.
“Iya juga, ya! Habis, dia centil banget sih jadi males datang deh!”
“Masa’ kamu nggak mau datang sih? Dia ‘kan temen kita juga, lagian kalau kita nggak datang dia pasti sedih! Kita harus ngehargain dong!”
“Iya…ya! Kalau gitu kita datang aja besok!”
“Siapa bilang, kita nggak akan datang?!”
“Aku sih… tapi nggak usah nyindir kayak gitu kali Disy! Dasar badan minus S!”
“Biarin aja! Daripada badan double XL!”
“Kamu tuh makan nasi cuman sebutir! Dasar temennya busung lapar!”
“Nasinya ‘kan kamu yang habisin jadi aku nggak kebagian, gini deh badan aku jadi tambah minus! Makanya, kalau makan jangan kerajinan dong!”
“Kamu tuh, yang otaknya diisi terus! Perut dibiarin kosong! Pilih kasih banget sih sama badan!”
“Ak…….”, mereka terus berdebat, hingga bel masuk kelas berbunyi mereka masih asyik berdebat.
“Mita! Disya! Pelajaran sedang berlangsung, jangan berisik! Kalau kalian tidak mau mengikuti pelajaran, silahkan keluar dari kelas!”, tegas Bu Sisil mengheningkan suasana.
Pelajaran pun berlangsung kembali. Ita dan Disya hanya terus diam sampai bel pulang sekolah berbunyi. Lalu melanjutkan perdebatan yang terpotong tadi.
“!!! A…..”
“Aduh… berisik tahu! Bikin kupingku tuli aja deh!”
“Mending kamu nggak usah ikut campur deh Nin!”
“Ya udah aku pulang duluan aja!”. Lalu Nindya pergi menjauh, meninggalkan dua sobatnya bertengkar.
Beberapa jam kemudian…
“Udah ah! Aku capek! Mendingan kita pulang yuk, Nin!”, kata Disya. Lalu dia menengok ke kanan, kiri, belakang, atas tapi dia tak menemukan sosok sobatnya. “lho, Nindya mana? Tadi kan dia di sini”, tanyanya gelisah. “apa dia diculik ya? Dia kan imut!”.
“Ngaco lo!”, jawab Ita.
“Terus… dia dimana?”
“Tadi ‘kan dia pulang! Nggak denger apa?!”
“Yah… aku pulang sendiri dong!”
“Terus apa masalahnya?
“Aku ‘kan orang terlucu di dunia! Ntar, kalau aku diculik gimana?”
“Nggak bakalan deh! Lagian kalau mau nyulik kamu, ngegendongnya kayak gimana? Pake karung beras juga nggak bakalan muat! Tambah lagi, badan kamu ‘kan double XL”
“Adhhf,mvieh…”, mereka bertengkar lagi.
Pagi-pagi, dua sobatnya sudah menunggu di kelas. “Assalamu’alaikum..!”, sapanya setiba di kelas.
“Wa’alaikum salam!”, jawab mereka.
“Kok kamu cemberut sih, Disy? Ada apa?”
“Ada apa, ada apa! Kemarin kenapa kamu ninggalin aku Nin? Kemarin aku takut banget pulang sendiri!”
“Ya sorry! Habis, kalian berantem melulu sih! Bikin kuping budek aja! Oh ya, emangnya kamu kemarin gimana pulangnya?”
“Kemarin aku naik ojek”
“Kok ojek sih? Kenapa nggak naik bus aja?”
“Habis, kemarin bus sepi banget! Di depan mata yang kelihatan hanya ojek! Ditambah lagi, kemaren aku jatuh dari motor”
“Oh… menurut aku kamu mesti nurunin berat badan deh!”, potong Ita.
“Iya, aku tahu kok! Tapi makanan di rumahku ‘kan enak2! Jadi nggak kuasa deh nahannya! Makanan di rumahmu ‘kan, tanpa lemak semua! Makan nasi aja cuma sebutir!”, balasnya. Tetapi Ita hanya menguap, sepertinya dia sangat lelah.
“Memangnya kemarin kamu pulang jam berapa?”
“Jam lima sore-an lah!”
“Kok bisa? Pulang sekolah kan jam satu siang! Ada kegiatan ekskul ya? Atau… kerja kelompok? Tapi, perasaan nggak ada deh!”
“Kemarin kita berdua berantemnya lama!”
“Oh…”, jawaban singkat dari Nindya. Pelajaran dimulai, Ita terus menguap, hampir ia tertidur, tapi Disya membangunkannya. Ita tdk dapat dibangunkan lagi, dia terus terbawa ke dalam mimpi indahnya. Entah apa yang diimpikannya, tapi ia tersenyum senang. Tiba-tiba…
“Ita……!!!”, dengan sangat keras bu Sisil berteriak.
“Gempa! Gempa!”, kata Ita terbangun dari tidurnya.
“Hahaha…”, anak-anak tertawa.
“Diam!”, gertak bu Sisil. Semua anak-anak diam dan memusatkan pandangan ke arah Ita. Ia merasa sbg seorang terdakwa yang duduk diatas kursi panas.
Ia menelan ludah, lalu bertanya “Ada apa bu?”
“Kenapa kamu tidur di kelas? Kamu sudah bosan dengan pelajaran Ibu?”
“Bukan begitu bu!”
“Lantas kenapa?”
“Tadi malam saya melakukan eksperimen bu!”
“Eksperimen apa maksudmu?”
“Saya mencoba meng…… katak bu!”, katanya. Kata-katanya begitu rumit sehingga sulit dibaca.
“Mana buktinya?”
Ita menyodorkan sesuatu yang ada di dalam toples, “ini, bu!”, jawabnya.
“Apa ini? Kok bentuknya aneh sih?”, tanyanya lagi.
“Hah? Apaan tuh? H…”, anak-anak pada ribut dan kaget dengan apa yang mereka lihat.
“Diam!”, tegas bu Sisil.
“Itu bentuk en… dari katak bu!”, jawabnya lagi entah berbicara dengan bahasa apa.
“Baiklah, kali ini kamu menang. Tapi, jika ingin melakukan eksperimen jangan terlalu malam”
“Iya bu!”
“Sekarang, lebih baik kamu cuci muka”
“Baik bu!”
Pelajaran dimulai kembali. Beberapa jam kemudian, bel pulang sekolah berbunyi.
“Oh iya, besok kan Indira ultah! Masa nggak ngasih kado sih!”, usul Disya.
“Tumben otakmu encer!”, jawab Ita.
“Ya iyalah… kalau nggak encer mana mungkin aku masuk murtel peringkat 5 besar di sekolah ini!”
“Terserah deh! Hoahm…”
“Masih ngantuk?”, Tanya Nindya.
“Sedikit”, jawabnya.
“Cuci muka sana gih!”
“Iya…”.
Setelah Ita mencuci wajahnya, mereka bertiga pergi ke mall mencari kado ultah untuk Indira. Mereka sibuk mencari-cari hadiah yang cocok. Setelah menemukan hadiah yang cocok, mereka pulang.
Di pesta syukuran ultah Indira…
“Hai.. happy birthday ya, Ra!”, sapa dan ucapan selamat dari Nindya. Kedua temannya pun ikut menyelamati Indira.
Indira tersenyum puas, trio cupu membalas senyumannya. “Makasih ya, temen-temen! Aku seneng… banget! Aku nggak nyangka kalian bakalan dateng! Makasih banyak ya!”. Dia tersenyum lagi, lalu bicara “beneran deh! Kalian baik banget sih! Aku ‘kan udah banyak salah sama kalian!”
“Iya, nggak apa-apa! Lagipula, kamu udah ngundang kita. Masa’ kita nggak datang sih!”, jawab Disya.
“Ra, kayaknya kamu nggak usah tersenyum kayak gitu deh! Bikin mual aja deh!”, kata Ditra, salah satu sohib Indira. Indira menghentikan senyumnya, sepertinya dia sangat sedih. Terlihat di dalam matanya, dia seperti hidup di ruang hampa udara. Kemudian dia pergi menjauh dari trio cupu.
“Ayo kita pergi, Ra!”, kata Nania, salah satu sohibnya. Lalu Indira pergi terus menjauh dari trio cupu.
Nindya menajamkan matanya ke arah Indira dalam-dalam. Disya ikut heran, “Nin, kamu kenapa sih? Kesambet ya?”, Tanya Disya.
“Itu, Indira kenapa ya? Sepertinya dia dimanfaatin sohib-sohibnya deh!”
“Kayaknya, sih! Tapi, kayaknya nggak mungkin deh! Dia kan model! Tapi, mungkin juga sih! Soalnya, dia kelihatan sedih.”, tambah Ita.
“Ah, masa’ sih? Sulit dipercaya!”
“Kamu lihat aja!”
“Iya juga, ya!”, kata Disya, sambil melesatkan matanya ke arah Indira. Indira tersenyum dengan terpaksa, dia terlihat sangat sedih. Tapi sayang, Indira berhasil membohongi trio cupu dengan image palsunya.
Tiba saatnya bu Sisil mengabsen murid-muridnya. “Indira!”, tapi tak terlihat Indira mengacungkan tangannya. “dimana Indira? Apa ada yang tahu kenapa dia tdk sekolah hari ini?”, Tanya bu Sisil lagi.
“Dira sakit bu!”, jawab Nania.
Kira-kira, sudah lima hari mereka belajar tanpa Indira. Tapi, tetap tdk ada kabar apapun yang berkembang. Ditanyain ke teman-temannya, tetap ngotot nggak ngasih tahu Dira sakit apa. Tapi, rasanya InDiNa geng nggak terlalu mempermasalahkan deh! Kenapa ya?
“Ditra, maaf ya mengganggu! Kamu tahu nggak, Indira sakit apa sampai-sampai nggak masuk sekolah selama limas hari ini?”, tanya Ita memberanikan dirinya.
“Emangnya apa urusannya sama elo? Dia ‘kan nggak punya temen cupu kayak lo!”, jawabnya.
Ita menahan emosinya, lalu bertanya lagi “Dit, aku nanya yang terakhir kalinya, Indira sakit apa?”
“Gimana ya? Aku nggak tahu pasti sih, tapi kalau mau tahu, tanya aja sama orangnya!”, dia menjawab dengan sopan, karena dia tahu bahwa Ita memang jago karate. Salah-salah, nanti bisa dijadiin perkedel!
“Oh… tapi kok kamu nggak tahu sih? Dia kan termasuk geng kamu.”
“Sebenernya, ehh… tapi kamu nggak usah kasih orang lain selain geng trio cupu ya?”
“Iya”
“Janji?”
“Iya, aku janji deh!”
“Sebenarnya, geng kita udah bubar! Alasannya, karena dia udah bosen terus hidup kayak gini. Dia banyak masalah, Ta! Tapi, gue nggak mau geng kita bubar gitu aja! Makanya gue sering maksa dia terus jalan sama kami. Dari hari itu dia malah ambah sedih, padahal ‘kan maksud gue supaya dia melupakan masalahnya. Eh, dia malah lebih putus asa.”
“Sorry, bukan maksud aku ikut campur. Sebenernya, apa sih yang dia mau?”
“Katanya, dia mau jadi orang yang baik kayak trio cupu! Makanya, waktu kalian dateng dia seneng banget. Tapi gue masih mau temenan sama dia kok! Makanya gue nyegah dia deket sama kalian. Gue sirik sama kalian! Dia orangnya baik banget, jujur, dan dermawan. Tapi sayang, kalian nggak tahu dia yang sebenarnya ya!”
Oh, gitu toh? Aku kira, mereka mau manfaatin Indira! Gimana nih ? Aku udah su’udzon sama mereka. (batinnya dlm hati)
“Eh, sorry ya, gue udah mecahin persahabatan kalian!”
“Enggak kok, bukan itu yang menyebabkan geng kita bubar”
“Terus apa dong?”
“Dia putus asa, dan merasa gagal berteman! Padahal kita masih mau ngasih semangat ke dia, dan kita mau peduli sama dia! Tapi, dia masih nggak ngerti juga”
“Memangnya ada masalah apa sih?”
“Oh iya, kamu pernah lihat kasus jatuhnya pesawat … di berita nggak?”
“Iya, terus kenapa? Apa hubungannya?”
“Di dalam pesawat itu ada orang tuanya Indira. Dia merasa bersalah atas kejadian yang menimpa keluarganya tersebut”
“Kok bisa? Apa salahnya?”
“Sebenarnya, dia nggak salah sih! Tapi dianya aja yang berlebihan”
“Apa katanya?”
“Dia menangis dan berkata “ini semua gara-gara aku! Kenapa aku izinin mama sama papa pergi?! Kenapa nggak aku aja yang pergi?” katanya, dia udah punya firasat buruk. Tapi dia malah ngizinin mereka pergi. Aku udah bilang kalau itu bukan salahnya, tapi dia tetap menyalahkan dirinya sendiri. Makanya, dia jadi kayak gini. Dan sejak saat itu dia terus mikirin hal itu, sampai-sampai dia stress. Aku udah ngingetin dia, tapi nggak ngaruh. Dan aku nggak tega melihat keadaannya yang sekarang.”
“Terus, kamu suka jenguk dia nggak?”
“Iya, tapi dia nggak mau ketemu. Terakhir aku ketemu dia dua hari yang lalu, tapi aku nggak bakalan nyerah gitu aja! Aku akan berusaha membuat dia tersenyum lagi dan sehat kembali.”
Ita hanya terus diam mendengarkan ucapan-ucapan Ditra. Dia terlihat berfikir keras.
“Ditra, makasih ya, atas penjelasannya! Ternyata, kalian nggak seburuk yang aku kira. Maaf, ya!”
“Iya”
Bel pulang sekolah berbunyi…
Ita bengong dengan semua yang terjadi. Nindya dan Disya tambah bengong lagi, ketika melihat sohibnya melamun.
“Kamu kenapa sih, Ta?”, Tanya Disya.
“Aku udah kasih tahu kalian belum?”
“Kasih tahu apa?”
“Tentang Indira!”
“Kayaknya belum tuh!”, jawab Nindya.
“Sebenarnya…………………….. gitu ceritanya!”, dia menjelaskan apa yang dijeaskan Ditra tadi.
“Apa? Jadi gitu ya?”, tanya Disya heran.
“Kalau gitu, lebih baik kita sekarang pergi dan mencari tahu ke rumah Indira!”, usul Nindya.
“Ayo!!”
Mereka tiba di depan sebuah rumah, lalu membunyikan bel yang ada di dekat pintu.
“Ada yang bisa saya bantu, non?”, Tanya seseorang yang kira-kira umurnya sudah separuh baya memakai baju kebaya dan berbicara dengan logat jawa, sepertinya pembantu di rumah Indira.
“Saya mbok Minah, pembantu di rumah ini. Ada yang bisa saya bantu? Non teman-temannya non Dira ya?”, tanyanya lagi.
“Iya mbok, Dira nya ada nggak mbok?”, Tanya Disya.
“Non Dira… ehh…”
“Dira kenapa mbok?”, Tanya Nindya.
Mbok Minah terlihat agak bingung menjawab pertanyaan Disya dan Nindya. “kenapa mbok?”, Tanya Ita.
“Non, silahkan masuk!”
“Makasih”. Mereka masuk kemudian duduk di atas sofa di ruang tamu.
“Non Dira masuk rumah sakit, non!”
“Masuk rumah sakit? Sejak kapan?”, Tanya Ita.
“Sehari yang lalu”
“Dira sakit apa sih, mbok?”, Tanya Nindya.
“Non Dira, sakit ginjal, non! Dia nggak mau makan, sudah beberapa hari ini non Dira susah makan. Padahal, simbok udah ngingetin non Dira.”
“Gara-gara kecelakaan pesawat itu ya, mbok?”, Tanya Disya.
“Iya, kok non bisa tahu?”
“Saya di beri tahu Ditra, mbok!”
“Oh, non Ditra toh?”
“Iya mbok! Dia sering jenguk Dira ‘kan, mbok?”
“Iya, non Ditra sama non Nania baik… banget! Mereka mau bantuin mbok membujuk non Dira supaya makan. Tapi, kadang-kadang non Dira tetep keukeuh ndak mau makan.”
“Ya udah deh, mbok! Terima kasih banyak ya, mbok! Biar kami jenguk Dira ke rumah sakit aja deh mbok!”
“Iya, non! Hati-hati ya!”
“Iya mbok!”
Setelah sampai di rumah sakit…
“Nggak!! Aku nggak butuh bahagia!! Aku nggak mau sehat! Lebih baik aku pergi! Menyusul ayah dan bunda!”
“Kamu nggak boleh gitu, Ra! Ayah sama bunda kamu akan nyesel kalau kamu terus kayak gini!”, terdengar suara dari arah kamar Indira, sepertinya suara Ditra. Tak lama kemudian, trio cupu melihat Ditra keluar dari kamar Indira.
“Ditra? Nania? Kalian kenapa? Kok nangis”, Tanya Ita.
“Kita nggak apa-apa kok!”, jawabnya.
“Kamu harus jujur ke kita, Dit!”, kata Nindya.
“Kamu jangan nangis! Jujur Dit! Kamu kenapa?”, tanya Disya.
“Dira..”, jawabnya dengan diiringi tangis.
“Dira kenapa?”
“Dira nggak mau sehat, Ta!”
“Apa? Kok bisa?”
“Dia..”
“Dia kenapa?”
“Dia.. dia.. pernah melakukan percobaan.. bunuh diri”, jawab Nania.
“Apa?”
“Iya, sekarang mendingan kalian bujuk dia”
“Oke! Kita akan berusaha!”
Setelah di kamar Indira… mereka kaget melihat sosok temannya yang semakin kurus, mungkin menyaingi kurus badannya Ita.
“Kalian?”, Tanya Indira.
“Iya, kita mau jenguk kamu”, jawab salah satu trio cupu.
“Oh..”, jawabnya. Dia terlihat sangat sedih dan tertekan.
“Ra, aku bawa makanan lho! Kamu belum makan ‘kan?”, Tanya Nindya, salah satu personil trio cupu yang paling sempura (maksudnya, sempurna badannya! Geetoh!).
“Makasih, tapi aku nggak mau makan!”, jawabnya ketus.
“Kenapa kamu nggak mau makan?”, Tanya Disya, sohib Nindya yang badannya paling subur.
“Ayo, makan! Supaya cepat sembuh!”, ujar Ita, salah satu personil geng trio cupu yang paling kurang lemak.
“Nggak! Aku nggak mau sembuh!”, jawabnya lagi.
“Ya udah, nggak apa-apa! Tapi aku punya pertanyaan-pertanyaan nih!”, bujuk Ita, padahal Ita mau membuat Indira mau makan lagi. Itu adalah salah satu trik yang dia pakai untuk membujuk orang lain, dengan pertanyaan-pertanyaan pamungkasnya, insyaallah semuanya teratasi! Makanya jangan coba-coba deh!
“Mau nanya apa?”, Tanya Indira dengan ketus. Kedua sohib Ita tersenyum dan saling memandang.
“Gini.. kamu tahu nggak apa hukumannya orang yang bunuh diri?”
“Tahu”
“Apa?”
“Akan dimasukkin ke neraka, iya kan?”
“Iya kamu benar! Terus, orang yang nggak mau bersyukur gimana menurut kamu?”
“Gimana ya? Maksud kamu, yang nggak mau bersyukur kayak gimana?”
“Yang dikasih sehat, dikasih banyak Rizki sama Allah”
“Oh..”, jawabnya lalu dia kaget dan langsung menundukkan kepala. Lalu bicara lagi, “menurutku orang itu nggak salah! Dia nggak dikasih kebahagiaan ‘kan?”
“Justru karena dia sehat, dia bahagia”
“Tapi dia kesepian! Buat apa bersyukur!?”
“Kamu salah, kamu nggak kesepian Ra!”
“Aku kesepian!”
“Kamu punya banyak teman, Ra! Kamu nggak kesepian!”
“Tapi mereka dan kalian nggak sayang sama aku!”
“Siapa bilang? Kalau nggak sayang, menurut kamu mau ngapain mereka ke sini?”
“Kita dan mereka mau kamu senang Ra!”, tambah Disya.
“Bohong!”
“Kita dan mereka mau kamu sehat! Dan ceria lagi!!”, tambah Nindya.
“Nggak! Aku nggak mau sehat! Lebih baik, sekarang kalian pergi dari sini! Aku benci kalian semua!”
“Baik! Kita akan pergi!”, lalu trio cupu meninggalkan kamar indira.
Setelah trio cupu pergi dan tak terlihat lagi, Indira menumpahkan rasa sedihnya melalui matanya yang indah. Dia mulai mengalirkan air matanya yang terasa hangat mengalir di atas pipinya yang lembut. “Hiks.. hiks.. hiks! Aku nggak mau hidup lagi! Kenapa aku harus kesepian!?”, dia terus menangis, dan menangis.
Siang berganti malam, Dira tetap tdk mau makan, dia hanya makan satu kali hari ini, bahkan hanya lima suap dia makan. Ucapan-ucapan trio cupu tadi siang terus membayang di benak Dira, dia terus berusaha melupakan ucapan Ita dan teman-temannya yang tadi siang. Tapi, dia tidak bisa.
Keesokan harinya di sekolah, Ditra dan Nania menanyakan keadaan Dira pada trio cupu.
“Gimana dong?”
“Yah.. kita tunggu aja reaksinya!”
“Kalau nggak manjur gimana?”
“Lihat saja! Kalau manjur, dia pasti sadar dan mau makan lagi”
“……..”, mereka terus memperbincangkan hal tersebut.
Siangnya, mereka menjenguk Dira lagi, Nania terpaksa ikut karena itu menyangkut keselamatan sahabatnya. Sebenarnya, Nania paling anti dengan yang namanya obat, baunya saja dia sudah tak tahan makanya disebut terpaksa.
“Gimana Ra? Kamu masih mau sakit?”, Tanya Ditra.
“Aku nggak mau sembuh!”, jawabnya.
“Ra, orang tuamu menyayangimu. Kalau mereka masih ada mereka pasti sedih melihat keadaanmu seperti ini. Makanya, kamu makan ya, Ra!”, bujuk Nania.
“Itu kalau mereka masih hidup! Tapi, mereka sudah tiada Nan!”, jawabnya ketus.
“Ra, hidup ini adalah perjuangan. Mau dikemanakan perjuangan yang selama ini kamu jalani? Kamu mau membuangnya?”, Tanya Ditra.
“Bagaimana kalau ini terjadi sama aku, Ita, Ditra, Nania, atau Disya? Apa kamu akan mendukung kita bersikap sama?”, Tanya Nindya. Dira hanya membuang muka, lalu “Jawab, Ra! Apa kamu mau melihat keadaan kami sepertimu? Tidak mau kan? Kita juga kayak gitu Ra! Kita nggak mau melihat kamu menderita, kita sedih karena kita sayang sama kamu! Kamu masih punya kami!”, kata Nindya panjang lebar.
Dira terus menunduk. “Jawab, Ra!”, tegur Nindya sambil mengguncang-guncangkan pundak Dira.
“Hiks.. hiks! Tapi kalian bukan orang tuaku!”, jawabnya.
“Kita teman-teman kamu! Kami sayang kamu, Ra! Dan ALLAH nggak akan memberikan cobaan yang nggak bisa ditempuh umatnya”, kata Disya.
“Hiks! Hiks! Hu….”, Dira memeluk kedua sohibnya. “Maafin aku, Dit, Nan!”, dia terus menangis dan meminta maaf pada semuanya.
Berminggu-minggu berlalu, semuanya terasa sangat cepat. Geng InDiNa bubar, tapi tali persahabatan tak akan pernah putus untuk selamanya. Mereka hidup damai dan tidak pilih-plih atau membeda-bedakan antara si miskin dan si kaya. Badai sudah berlalu, tinggal menempuh jalan yang lebih baik.
~ selesai ~
(jum’at, 23 Mei 2008)
By: Prashti
gimana ?? seru nggak niie ?
mohon maaf apabila ada kesamaan nama, tempat, kejadian .
semoga dapat terhibur ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar