Senin, 04 September 2017

Power of Du'a : Jawaban Do'a itu selalu 'iya'

Whats your opinion about du'a?
Do'a merupakan panjatan permintaan kita terhadap sang Pencipta. Sejatinya do'a adalah ucapan yang dikeluarkan dengan harapan akan terkabul / diijabah.


Doa adalah hakikat ibadah dan penampakan dari bentuknya yang paling khusus, karena di dalamnya terdapat upaya untuk kembali dan merendahkan diri di hadapan Allah. Allah SWT berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS Ghafir: 60)
Allah Dzat yang Maha Pemberi. Maka ketika seorang hamba memohon di hadapan-Nya, maka Dia mengabulkan permohonannya dan memberikan pahala atas ketundukannya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Tuhanmu Maha Hidup dan Maha Pemberi, Dia malu kepada hamba-Nya ketika dia mengangkat tangannya lalu tidak mengabulkan permohonannya.” (HR Abu Dawud, no. 1488). dikutip dari: http://imuslimguide.com/id/azkar/6

Sejatinya setiap do'a yang baik disertai dengan keyakinan yang kita miliki selalu dijawab iya atas izin Allah. Iya, bisa 'iya sekarang', 'iya tunggu dulu' dan 'iya nanti'.

Well, saya angkat dari pengalaman saya. Saya sudah membuktikan bahwa do'a tidak dapat dipisahkan dari usaha. Bahwa usaha tanpa do'a adalah nol. Mungkin bisa saja harapan terkabul, tapi beda rasanya dengan berdo'a. 

Do'a
Saya bukan orang yang pintar dan rajin, saya orang biasa yang bahkan di sekolah/perguruan tingginya bisa dihitung biasa-biasa saja. Saya masuk perguruan tinggi swasta jalur Diploma III, saat masuk kuliah saya berdo'a agar dapat IPS (Indeks Prestasi Semester) yang baik supaya mendapat beasiswa sehingga ringanlah biaya yang dikeluarkan sehingga saya berusaha. Ya, Allah kabulkan. Saya masuk kandidat untuk program beasiswa. 
Tapi belum Allah kehendaki. Buktinya teman saya yang IPS nya masih dibawah saya malah mendapatkan beasiswa, namun saya tidak. Mungkin dilihat dari orang tua bahwa orang tua saya bekerja sebagai PNS, dan orang tua teman saya merupakan wiraswasta, selain itu teman saya juga meupakan atlet badminton tingkat Kabupaten.. So, waktu itu saya drop saya suudzon terhadap Allah. Mulai saat itu saya jadi malas belajar. Betapa sombongnya manusia ini.
Kemudian jaranglah saya berdo'a. Padahal kunci dari keberhasilan tidak bida lepas dari do'a.

Karena Kesombongan
Lama kemudian, karena kesombongan manusia, karena suudzon nya manusia, dan mungkin Qodarullah upaya Nya agar saya mengerti agar saya mengetahui bahwa usaha tanpa do'a itu nol.. saya tidak mendapat predikat cum laude saat kelulusan program studi DIII, padahal merupakan harapan orang tua  untuk dapat predikat tersebut agar bisa menjadi PNS, waktu itu untuk PNS minimal IPK untuk sekolah tinggi swasta adalah diatas 3,5 (cum laude). Gugurlah harapan orang tua waktu itu.
Betapa merasa buruknya saya, betapa merasa berdosanya saya, betapa merasa tidak bergunanya saya.
Saya telah mengecewakan kedua orangtua saya, tidak bisa memenuhi harapan mereka, dari mulai tidak lulus masuk perguruan tinggi negeri kemudian tidak mendapat beasiswa dan tidak mendapat predikat sesuai yang orang tua inginkan saat lulus diploma. Betapa merasa buruknya saya waktu itu.

Mengingat Dosa
Dari saat itu saya mulai berpikir, tapi belum tersadar bahwa 'aku telah sombong' jarang berdoa dalam usaha. Dari sana saya mulai berdo'a lagi dan mengingat dosa apa selama ini yang telah aku perbuat sehingga Allah enggan mendengar pintaku. Coba kuingat pernahkah aku membuat orangtua sakit hati dan menangis? Maka meminta maaflah. Atau pernahkah membuat orang lain sakit hati? Ya, waktu itu itu saya sepertinya terlalu sombong sehingga telah menyakiti orang lain, menuduh orang lain yang tidak-tidak. its fitnah, right? So, apologize then.

Mengenal Allah lewat dia
Ada seorang teman waktu itu yang tidak saya sukai. Yang saya merasa bahwa ia sok alim dan lain sebagainya, padahal rasa itulah yang membuktikan betapa sombongnya kita. Menjudge orang tidak baik, bukankah kita yang sok suci menganggap orang sok alim? Memangnya kita sudah benar dan sudah pantas mengomentari orang seperti itu? Mungkin ada hal yang harus dibenahi dalam hati, bahwa mungkin kita merasa tersaingi dengan orang tersebut, merasa kitalah paling baik dan benar. come on, stop it! Kita tidak pernah tahu amal seseorang, dan apakah amal kita diterima?
Pepatah mengatakan  'Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan terlihat'. So, yes.. koreksi dulu diri sendiri sebelum mengomentari orang lain.
Dari sanalah saya mengenal Allah lewat orang yang saya pandang sebelah mata. Ia yang terkadang tersipu malu dan jujur, tidak mau banyak berbicara. Dia yang mengajarkan saya kesabaran dan kejujuran, tidak dengan omongannya. Saya melihat ketegarannya, dicerca berbagai masalah keluarga. Jika saya jadi dia, mampukah saya menahan amarah? Mampukah saya bersabar dan menerima ketentuan Nya? Betapa malunya memandang dia sebelah mata.... 

Mendekat kepada Allah

Lalu aku mulai iri, mulai merasa bahwa aku tidak dekat dengan Allah. Mulai saat itu saya merasa bahwa cinta Allah akan kita rasakan jika kita berusaha mencari cinta Nya, bahwa cinta itu tidak ditunggu, tapi ditanyakan dan disapa. Bahkan jika perlu, kita kejar. Hidayah pun tidak akan datang dengan sendirinya, jemputlah ia maka dirimu bahagia.
Setelah itu, aku penasaran bagaimana cara mengenal Allah. Mulai mendekati Allah, merajuk dan meminta. Aku ingin merasakan dicintai Allah seperti sahabatku, yang hatinya senantiasa damai walau diterpa masalah, yang hatinya senantiasa bersyukur yang hati dan jiwanya senantiasa ingat bahwa semua yang kita miliki termasuk diri ini merupakan milik Allah.

Tidakkah bahagia orang yang hatinya damai? Orang yang hatinya terus bergantung dan mengingat Allah? Tidak khawatir akan hal yang terjadi pada masa mendatang karena yakin seyakin-yakinnya pada Allah.



Yakin jawaban Do'a itu iya
Terkadang hal kecil lah yang mengingatkan kita pada perubahan. Kemudian aku mengenal, ya hanya kenal hanya tahu seseorang yang sekarang adalah teman. Ia berkata pada sahabatku yang lain, "jawaban do'a itu iya. Selalu iya. Meskipun iya itu bisa jadi 'ya sekarang', 'ya sebentar', 'ya tunggu dulu' atau 'ya nanti'. "
Kemudian hati kecilku tergugah dengan yakinnya, seluruh kata-katanya menjalar di otak dan hatiku. Aku yakin, ya aku yakin. Sahabatku pernah berkata, "Allah itu tergantung prasangka manusia, jika prasangkanya baik maka baik pula yang ia terima dan jika prasangkanya buruk maka buruk pula yang ia terima".
Lalu tidak ada lagi keresahan dalam pikir dan hatiku.

Well, saya daftar di PTN ternama di Indonesia. Tadinya saya pikir itu terlalu bagus untuk ukuran saya yang tidak memiliki prestasi apa-apa, dan kemudian tanpa ragu saya yakin bahwa jawaban do'a itu selalu iya, dan hendaklah berhusnudzon kepada Allah. Dan alhamdulillah atas izin Allah dan do'a yang selalu dipanjatkan (selain saya, saya juga meminta do'a pada orang-orang terdekat saya) saya lulus di PTN tersebut, padahal sejak SMA saya tidak pernah terpikir untuk kuliah di PTN tersebut.



So, apapun yang kita lakukan dan sedang kita usahakan, jangan lupa berdo'a, jangan bosan berdo'a, jangan lupa meminta izin Allah.. Semoga yang kita lakukan berkah bagi diri kita dan semuanya. aamiin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pagi, siang, dan senja

Mata yang samar disapa dingin yang menjalar Pagiku menunggu di gagang pintu Kusambut bersama jenuh Belum senjaku datang, keluh menghadan...